24.2.08

Mengapa Saya Menulis?

Kalau ditanya mengapa saya menulis, jawaban saya cukup singkat. Suka. Sekali lagi, suka. Ya, saya menulis karena suka. Itu saja.

Mungkin Anda akan berkata, "Ah, basi." Mungkin juga Anda akan berkomentar, "Itu mah kuno." Tak apalah kalau itu komentar Anda. Saya menghargai komentar Anda dan saya justru berterima kasih karena Anda telah melontarkan komentar semacam itu. Apa pasal? Komentar Anda setidaknya telah menunjukkan bahwa Anda sudah membaca paragraf pertama yang saya tulis. Itulah mengapa saya mesti berterima kasih kepada Anda.

Jika kita suka kepada sesuatu, biasanya kita akan berjuang sekuat tenaga supaya apa yang kita suka tersebut bisa terus kita pertahankan. Demikian juga dengan kesukaan saya dalam menulis. Demi sebuah hasrat ingin menjadi penulis, saya punya sebuah pengalaman unik. Begini ceritanya.

Kesukaan saya menulis baru tumbuh saat saya duduk di bangku SMA, ketika itu saya masih kelas dua. Sebuah tulisan berupa puisi menghiasi sebuah media siswa lokal. Lantas tak lama kemudian sebuah puisi muncul di majalah komunitas yang beredar secara nasional, juga sebuah pantun muncul di surat kabar mingguan yang terbit di Yogyakarta. Ketika itu, semangat menulis saya benar-benar membara hingga saya berpikir bahwa seandainya di sekolah saya ada kelas jurusan bahasa, saya pasti masuk jurusan bahasa. Namun sayang, sekolah saya tak membuka jurusan bahasa. Saya mesti memilih antara jurusan IPA dan IPS karena hanya dua jurusan itulah yang dibuka di sekolah saya.

Naik kelas tiga, saya dapat masalah. Pihak sekolah (dalam hal ini adalah wali kelas) secara sepihak memasukkan saya ke kelas IPA, padahal saya minat masuk jurusan IPS. Sebagai bentuk protes atas keputusan sepihak itu, untuk beberapa hari saya tidak masuk kelas. Pagi saya memang berangkat dari rumah ke sekolah, namun saya tak masuk kelas. Saya duduk-duduk saja di kantin, di ruang administrasi, di perpustakaan, atau bahkan di dapur sekolah. Rupanya protes yang saya lakukan lumayan berhasil. Pihak sekolah memanggil saya. Secara bergantian, guru BP dan kepala sekolah "menyidang" saya. Saya terus terang katakan kepada mereka bahwa saya tidak mau masuk kelas IPA. Saya berminat masuk kelas IPS.

Mendengar jawaban saya, mereka tampak terkejut. Apa pasal? Ketika itu IPS dianggap sebagai kelas buangan. Banyak anak yang mengincar kelas IPA, tapi saya yang sudah mendapat jatah kursi di kelas IPA malah minta jatah kelas IPS. Saya lantas katakan kepada mereka bahwa kalau di sekolah itu ada kelas bahasa, saya tidak akan masuk kelas IPS, melainkan akan memilih kelas bahasa. Ya, saya akan pilih kelas bahasa yang saat itu oleh banyak orang dianggap kelas buangan dengan status "lebih rendah" dari kelas IPS. Ya, itu semua saya lakukan karena saya ingin bisa menekuni dunia tulis-menulis.

Akhirnya pihak sekolah meminta saya menandatangani surat pernyataan bahwa saya tidak akan menuntut sekolah di kelak kemudian hari atas perpindahan saya dari kelas IPA ke kelas IPS. Saya dengan senang hati menandatangani surat itu. Saya kira permasalahan langsung beres. Ternyata tidak. Sebuah surat dari sekolah dilayangkan ke rumah paman saya (ketika itu saya tinggal dengan paman saya). Rupanya isi surat itu meminta paman saya datang ke sekolah membicarakan soal kepindahan saya dari kelas IPA ke kelas IPS. Rupanya paman saya cukup bijak dan mengatakan kepada pihak sekolah bahwa kalau itu memang keinginan saya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa hari kemudian saya sudah masuk kelas IPS. Rupanya teman-teman saya (di kelas IPA) mengikuti jejak saya, masuk kelas IPS. Pasal apa? Tak lain adalah karena mereka berpikir bahwa saya yang peringkat pertama saja masuk kelas IPS, apalagi mereka yang semua berada di peringkat di bawah saya. Ya, ketika itu sekolah kami hanya membuka dua program, yaitu IPA dan IPS yang masing-masing hanya terdiri dari satu kelas. Karena banyak siswa dari kelas IPA yang menyeberang ke IPS mengikuti jejak saya, akhirnya kelas IPA pada angkatan saya ditiadakan karena tidak memenuhi jumlah siswa minimal.

Singkat cerita, saya terus belajar menulis. Kelas IPS membuat saya kian rajin membaca untuk menghafal materi pelajaran. Dengan demikian, secara tidak langsung saya telah memiliki modal awal sebagai seorang penulis, yaitu kebiasaan membaca.
Lulus SMA saya ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru (dulu UMPTN). Jurusan yang saya ambil adalah Sastra Indonesia, baik untuk pilihan pertama maupun pilihan kedua (di dua universitas berbeda). Saya diterima di pilihan pertama, yaitu di Jurusan Sastra Indonesia di sebuah universitas ternama di Yogyakarta.

Di kampus itulah saya kian rajin belajar menulis. Namun, saya sedikit kecewa karena ternyata di kampus itu saya hanya mendapat teori tentang menulis. Soal praktik menulis, harus saya lakukan sendiri. Saya pun kian giat membaca buku-buku teori menulis dan kian giat berlatih menulis. Beberapa tulisan dimuat di media lokal di Yogyakarta. Begtulah hingga akhirnya saya lulus.

Keinginan saya untuk menulis akhirnya berkembang. Saya tak lagi puas hanya menulis tulisan singkat di media cetak, namun saya ingin lebih dari itu. Saya ingin menulis sebuah buku. Meskipun agak terlambat, akhirnya sebuah buku saya terbit juga, sebuah buku kumpulan cerpen. Sebuah buku yang terbit setelah tiga tahun saya lulus dari Jurusan Sastra Indonesia. Ternyata, teori menulis yang kita pelajari bertahun-tahun tak banyak membantu saya menghasilkan sebuah buku jika teori itu hanya sebatas teori tanpa praktik. Ya, praktik menulis adalah kunci utama keberhasilan seseorang untuk menjadi penulis.

Sebagai penutup tulisan ini, satu hal ingin saya sampaikan, yaitu saya menulis karena suka dan rasa suka itu harus diperjuangkan. Sebuah perjuangan tak akan menampakkan hasil jika hanya menjadi angan-angan, jika sebatas teori. Ya, sebuah perjuangan akan membuahkan hasil jika diwujudkan dalam sebuah tindakan. Oleh karena itu, jika Anda suka menulis dan ingin menjadi seorang penulis, mulailah dengan menulis. Titik.

4 comments:

CapGoMeh said...

Tks for visit....

Ugie said...

sering2lah mampir

Perjalanan Hajiku said...

Kesukaan kita kebetulan sama. Saya senang blog anda

Ugie said...

terimakasih Pak sudah sudi singgah. salam sukses selalu.