21.9.06

Kesel Sama Media?

Gimana gak kesel coba? Hari ini aku hubungi lima media yang memuat tulisanku sejak April hingga Juni 2006. Ada yang merespons dengan ramah, ada juga yang merespons dengan nada kurang bersahabat.

Sebenarnya dah berkali-kali aku hubungi mereka via e-mail, namun gak juga direspons. O, ya. Ada satu media di luar Jawa yang mungkin risih dengan e-mailku yang kemudian kirim nomor ponsel sekret. Nah, pagi tadi kuputuskan telepon nomor itu. Pasal, setelah kutanyakan soal honor cerpenku yang tak kunjung dibayar (aku tanya ke dia via SMS beberapa hari lalu), tak jua ada jawaban.

Nada sambung terdengar. Aku langsung saja ungkapkan niatku. Maklum, aku mesti berlomba dengan pulsa.

Orang di seberang sana tanya aku domisili di mana. Aku jawab aja di Jogja. Nah, dia bilang gak bisa kirim honor dengan alasan aku mesti serahkan fotokopi tanda pengenal untuk bisa ambil honor. Selain itu, dia bilang bahwa dia belum pernah kirim honor ke luar kota. Lantas aku bilang, ”Kan bisa transfer via bank atau lewat wesel pos. Lagian aku sudah cantumin nomor rekening?”

Mendengar itu, orang di seberang sana tanya, ”Judul cerpennya apa?” Aku sebutkan judul cerpen yang dimuat di media dia. Lantas dia tanya lagi, ”Dimuat kapan? Edisi berapa?” Aku katakan itu cerpen dimuat akhir Mei 2006. Dia lantas bilang, ”Wah, itu gak bisa. Di sini maksimal tiga bulan. Lebih dari itu, honor hangus?” Aku lantas bilang, ”Ya, udah Mbak. Terima kasih. Ntar aku telepon langsung ke bos Anda.” (Yup, ini karena aku saking jengkelnya. Lha jelas2 seminggu sebelumnya aku kirim e-mail ke itu media tanya soal honor, katanya aku disuruh menghubungi nomor ponsel sekred. Setelah dihubungi, ujung2nya cuman buang pulsa. Bagaimana tidak dongkol?)

Ya, akhirnya kuputuskan tak mengirim lagi tulisan ke itu media. Gak adil. Masa dia mau memuat tulisan (cerpen) yang kita kirim via e-mail, tetapi saat dikonfirmasi soal honor via e-mail gak ada respons? Saat ditelepon, eh... tanggapannya gak menyenangkan.

Setelah itu, aku telepon ke media yang lain. Tanggapannya beda banget. Lantas dia tanya cerpen itu dimuat kapan, judulnya apa. Aku sebutkan judul dan tanggal pemuatan. Lantas dia minta aku tunggu sebentar. Selang beberapa menit, dia bilang bahwa honor untuk cerpen itu sudah dikirim beberapa hari yang lalu sambil minta maaf karena agak telat mengirim honor lantaran file yang menumpuk. Aku bilang gak masalah dan kututup telepon dengan ucapan terima kasih.

Lantas aku telepon ke media ketiga, tapi ke salah satu nomor ponsel. Rupanya gak nyambung. Jaringan sibuk kata operator. Lantas aku telepon media keempat. Namun, lagi-lagi aku mesti kecewa karena orang yang mengurusi honor belum datang. Aku diminta telepon lagi.

Media kelima, aku belum punya kontaknya. Mungkin nanti kalau ada teman yg kasih tahu, aku akan telepon, sekalian telepon media ketiga dan keempat.

8 comments:

Yo_simpleman said...

Bung Ugie,
Perlu bagi-bagi pengalaman seperti ini. Saya pernah mengurus honor puisi yang telah dimuat di salah media ibukota yang cukup besar. Ternyata tanggapannya oke, dan saat mengurus honornya pun cepat, tak bertele-tele.

Hanya memang, masih terasa kurang sekali apresiasi terhadap karya-karya sastra, apalagi puisi. Apalagi dari mereka yang kurang punya nama di dunia cerpen dan puisi. Itukah wajah kita, yang kurang menghargai seni? Jika begitu, memang tak mengherankan banyak rasa yang tergerus kemajuan jaman, nurani yang terbenam entah kemana lagi.

Semoga tidak jera berkreasi.

Salam puisi,
-Yo-
www.blue4gie.com

ugieyogyakarta said...

Begitulah Yo. Ah, berkreasi? Tentu aku tak jera. Cuman, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan lebih selektif pilih media. Lagian, untuk sementara kayaknya aku malah menggeluti nonfiksi. Semoga dalam waktu dekat karyaku bisa meluncur (emang papan luncur?). Trim's Yo dah sempetin mampir. Salam.

matahari said...

maju terus, gik! :D

ugieyogyakarta said...

Ok deh Law. Trim's. Soale cuman itu yang kuyakini bisa kulakukan. Maju dan terus maju. Salam (juga untuk semua penghuni gedung di Suroto)

http://embunkehidupan.blogspot.com said...

ini jelas tidak fair. mereka sudah memuat karya kita, tapi honor masih dipersulit. harusnya mereka profesional, nggak usah nunggu dikontak ma penulis, honor mustiny a langsung dikirim. Lha ini, sudah dikontak berkali-kali, eh tapi honor tak kunjung dikirim. Kampret tenan.

nyebelin, benar-benar bikin dongkol. penulis seolah-olah dianggap kayak pengemis aja.

sepakat mas Ugie, nggak usah lagi kirim ke itu media. kalau perlu, sebarluaskan saja ke rekan-2 penulis lainnya. biar tau rasa.

ugieyogyakarta said...

Salam....
Halo embun. Ya, media nakal semacam itu pasti deh bakal kita temukan. Pokoke hati2 aja. Setidaknya sudah ada beberapa media yang masuk daftar hitam saya (cie...). Nah, soal sebarluaskan ke rekan2 penulis, kayaknya enggak deh. Takutnya ntar jadi fitnah. Lho, siapa tahu to bagian keuangan media yang bandel itu dah diganti, trus skarang gak bandel lagi alias tertib kasih honor? He... he... he....

Salam,

NiLA Obsidian said...

oooo...gitu ya mas ugie?

makasih bagi2 pengalaman, baru aja mau nyoba2...heuheuheu...(PD amat ya pemula.com)
tapi ga papa...tetap semangaD ya mas....

Merdeka!!

ugieyogyakarta said...

To nila: mencoba kan gak ada salahnya tho? Pede itu penting lho? Pokoke semangat! (gak perlu pake merdeka ya?)