10.9.06

Kereta dengan Satu Gerbong

Judul: Kereta dengan Satu Gerbong
Penulis: Eko Sugiarto
Penerbit: Lanarka Publisher
Tebal: xvi + 79 hlm

Kereta, stasiun, peron, rel, dan semua hal-hal yang berkaitan dengan kereta akan kita temui dalam tiap cerpen yang terangkum dalam sebuah buku kumpulan cerpen ”Kereta dengan Satu Gerbong” karya cerpenis muda Eko Sugiarto (Ugie). Seperti diungkapkan oleh Eko Sugiarto dalam kata pengantarnya, cerpen-cerpen yang terangkum dalam buku ini lahir dari kenangan sekitar 16 tahun yang lampau ketika keluarganya pindah rumah. Dari rumah barunya ini usai azan maghrib ia sering mendengar lantunan pujian dengan bahasa jawa lewat pengeras suara dari surau yang ada di dekat rumahnya. Di antara pujian yang sering didengarnya itu penulis sering menangkap kata ”kereto” (kereta) yang melukiskan keranda, ”kendaraan” untuk mengantar orang yang meninggal menuju pemakaman. Lantunan pujian yang berasal dari masjid ini membuat dirinya "merinding" setiap kali mendengarnya dan akhirnya menggerakkan otot-otot kreativitasnya untuk melahirkan sejumlah cerpen yang berkaitan dengan kereta.

Kata kereta dalam kumpulan cerpen ini terkadang bermakna lugas dan apa adanya, namun ada juga yang bermakna kias. Beberapa cerpen seakan mengajak pembacanya untuk menyelami makna hidup yang penuh misteri. Pembaca akan dituntun menuju batas misteri antara dunia nyata dan imajinasi, antara kehidupan dan kematian, antara harapan dan kenyataan, dan misteri-misteri alam batas lainnya (hlm. vi). Batas-batas misteri ini tampak jelas pada cerpen yang dijadikan judul buku ini ’Kereta dengan Satu Gerbong’. Cerpen ini menuturkan tokoh Aku yang sedang berada dalam sebuah stasiun kereta yang lengang di mana tak tampak satu pun kesibukan yang biasanya terdapat dalam sebuah stasiun kereta api. Tak ada pedagang asongan, penjual koran, pengemis, dan lain-lain. Yang tampak hanya beberapa orang yang tengah duduk menunggu datangnya kereta dengan wajah yang pucat.

Tak lama kemudian datanglah sebuah lokomotif dari arah timur yang hanya menarik satu gerbong. Beberapa orang yang terlihat menunggu tadi pun segera memasuki gerbong tersebut, namun tak ada ekspresi kebahagiaan pada wajah mereka seperti halnya calon penumpang yang gembira karena keretanya tiba. Semua masuk dengan wajah yang tampak pasrah. Ketika semua telah masuk, kereta dengan satu gerbong itu tetap menunggu. Heran karena kereta itu tidak segera berangkat, si Aku segera masuk ke dalam gerbong. Ia pun tercengang ketika mendapati bahwa gerbong tersebut ternyata memiliki panjang yang tak terbatas dan di dalamnya telah duduk ratusan ribu hingga jutaan orang. Berbagai keanehan lain ditemui oleh si Aku dalam gerbong ini. Melalui cerpen ini pembaca diajak untuk menyelami sebuah gerbong misteri yang nantinya akan melakukan perjalanan menuju batas antara misteri kehidupan dan kematian.

Beberapa cerpen lainnya masih mengusung ke-misteri-an kereta yang dikatikan dengan misteri kehidupan, cerpen ’Kereta Keempat’ mengisahkan seorang wanita yang ditemui oleh si Aku yang sama-sama sedang menunggu sebuah kereta yang akan menjemputnya. Cerpen ini berbicara mengenai rahasia kehidupan siapa yang akan terlebih dahulu harus ’pergi’ dengan kereta yang lebih awal di mana tak seorang pun tahu sebab itu adalah rahasia milik Yang Mahakuasa.

Tak hanya menyuguhkan cerita misteri kehidupan, dalam buku ini pembaca juga disuguhkan cerpen yang mengungkap realita sosial seputar sengketa tanah dengan pemerintah. Hal ini terungkap pada cerpen ’Kuharap Kau [Tak] Singgah ke Rumahku’. Dikisahkan tokoh dalam cerpen ini memiliki sebuah rumah yang penuh dengan aksesori kereta, mulai dari foto, mainan anak, patung, semua berwujud kereta. Rumah ini terbuka bagi siapa saja dan tak jarang banyak orang yang singgah bermalam di rumah ini. Menurut mereka, rumah tersebut memberikan rasa tenteram bagi siapa saja yang singgah. Kabar kenyamanan rumah ini tersebar dari mulut kemulut hingga akhirnya terekspose ke media massa. Rumah yang nyaman ini akhirnya tercium oleh pemerintah setempat dan dibuatlah rencana agar rumah tersebut diperluas untuk dijadikan sebuah museum. Namun si pemilik rumah menolaknya karena ia pikir jika dijadikan museum tentu saja orang yang hendak datang harus membeli tiket, bagaimana halnya dengan orang miskin? Dan bagaimana kalau rumah itu diperluas dan para tetangganya terkena gusur yang berarti harus menerima ganti rugi yang biasanya tak layak? Penolakan ini menghasilkan sengketa dan rumah tersebut harus dieksekusi. Hal ini menimbulkan protes dari pemilik rumah dan sejumlah tokoh masyarakat untuk mempertahankan rumah tersebut dengan melakukan perlawanan.

Soal-soal romantisme cinta yang berkaitan dengan kereta pun tak luput dari kretivitas Eko Sugiarto, seperti pada cerpen ’Memoar Kereta Malam’ dan ’Catatan untuk Boneka Kecilku’ terungkap bagaimana rasa cinta dan konflik batin muncul dari diri si tokoh utama dalam masing-masing cerita tersebut.

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini menarik untuk dibaca. Delapan buah cepen yang ada dalam buku ini setia dalam mengangkat nuansa kereta, stasiun, peron, dan lain-lain. Uniknya, tema-tema itu dirangkai dalam balutan keragaman tema. Ada tema misteri kehidupan, percintaan, realita sosial, bahkan ada satu cerpen yang membuat pembacanya tersenyum dikala mengakhiri cepen ’Dari Tugu ke Pakistan’. Semua itu hanya berdasarkan satu kata ’kereta’ yang menggerakkan imajinasi penulisnya untuk membuat cerita-cerita pendek yang menarik.

Sumber:
  1. Majalah Aksara Edisi 7
  2. www.bukuygkubaca.blogspot.com

4 comments:

rhani said...

ini karyamu ya? hebat banget! baca resensinya jadi pengen baca nih.. nanti cari di toko buku ah.. :)
Salam kenal ya..! Teruslah berkarya! ;)

ugieyogyakarta said...

Yup. Btul. Makasih ya? Sering2 mampir.

udeystar said...

kelihatannya menarik....
jadi keinget ama masa2 2 tahun yg lalu_saat suka membaca cerpen dan jadi puitis_
mengenang masa itu membuat aku jadi ingin 'berhenti hidup'

ugieyogyakarta said...

Waduh Udey? Masa sebuah kenangan bisa bikin ingin "berhenti hidup"? Bukannya harusnya bikin hidup lebih hidup? Trim's dah mampir.