8.7.07

Kumcer Interupsi

Buku baru. Ya, satu lagi buku baru. Sebuah buku kumpulan cerpen dengan judul ”Interupsi: Saat Rakyat Menggugat” akan segera hadir di hadapan pembaca. Berikut beberapa komentar tentang buku ini.

Cerpen-cerpen Eko Sugiarto adalah potret realitas sosial. Eko Sugiarto menelaah dengan tajam bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda-beda. Di satu pihak para tokoh dalam cerpen menghayati dirinya sebagai pusat aksi atau kegiatan, di lain pihak mereka berpikir dan bertindak dengan berpangkal pada suatu pola budaya tertentu dan susunan struktural tertentu yang memberi makna, arah, dan bentuk pada aksinya. (Gendhotwukir, Presiden Milis Komunitas Merapi)

Kemampuan penulisnya memadukan bahasa sederhana menjadi kaya makna adalah kekuatan antologi ini. Cerita-ceritanya selalu lembut, namun membuat kita selalu ingin terus mengulang menafsirnya. Setelah Triyanto Triwikromo, Eko Sugiarto menyembul sebagai pengarang dengan genre yang unik. (Slamat P Sinambela, cerpenis dan penerjemah lepas)

Membaca cerpen-cerpen Eko Sugiarto, saya sering paksa untuk menjadi awam kembali. Capaian perjalanan hidup yang sebelumnya saya gadang-gadang sebagai sesuatuyang luar biasa, inspiratif, nyatanya biasa saja. Sebaliknya, sesuatu yang saya anggap tidak penting, di mata batin Eko Sugiarto justru menjelma menjadi sesuatu yangsangat penting. Eko Sugiarto sepertinya penganut mazab foucoultian. Ia lebih senang membicarakan narasi-narasi kecil. Berlebihankah saya? Ada baiknya Anda membaca cerpen pertama di buku yang tengah Anda pegang ini: ”Masih Adakah Lilin di Tempatmu?” Lilin, keberanian untuk memberikan kemanfaatan buat orang lain, meski dengan begitu menggerus habis hak yang semestinya dapat dicecap. Itulah risalah yang dibawa Nabi Isa. (Agus M Irkham, penikmat cerpen, instruktur literasi)

Berkirim parsel di antara warga terdorong oleh rasa persaudaraan yang erat. Berkirim parsel kepada pejabat membuka jalur kolusi. Eko Sugiarto membidik dampak penjual parsel yang sudah berubah menjadi lahan ”profesi” baru. (Sigit Susanto, Moderator Milis Apresiasi Sastra, komentar untuk cerpen ”Keluh Seorang Pembuat Parsel”.)

Puitis, barangkali seperti itu yang tergambar dari kumpulan cerpen Eko Sugiarto ini. Kemampuannya dalam bermetafora membuat bingkai cerita-cerita yang sederhana itu menjadi retoris dan meninggalkan gema di sudut-sudut ruang pikir pembaca. Sepertinya Eko Sugiarto masih mencoba setia kepada dulce et utile. Sementara itu, akhiran yang mengejutkan juga menjadi kekuatan cerpen-cerpennya. Suspense, rangkaian ilustrasi demi ilustrasi sering kali dipungkasinya dengan sentuhan akhir yang mengejutkan, tak jarang ironis. Seperti peluru yang melesat menembus pembaca tepat di pangkal hidung pada Lubang di Jendela. (Didik Eko Wahyudi, penikmat sastra)

7 comments:

haris said...

mas, minta bukunya dong...

EKO SUGIARTO said...

halo ris. bsok dtg aja ke acara peluncuran bukuku

CempLuk said...

wah spt nya buku nya sangat menarik utk dibaca neh :)

EKO SUGIARTO said...

To Cempluk, silakan baca. he.. he.. he.... salam.....

nasrudin said...

keliatannya menarik deh

Amma said...

selamat yo kang

EKO SUGIARTO said...

to nasrudin dan amma, trim's ya. salam....