24.6.07

Jika Ilmu adalah Air

Saat masih kanak-kanak, saya pernah mendengar sebuah ungkapan. Menimba ilmu, itulah ungkapan yang saya maksud. Ketika itu saya sempat bingung, ilmu kok ditimba? Memang air?

Seiring berjalannya waktu, saya kian paham. Ya, ternyata ilmu memang bisa kita ibaratkan dengan air. Dalam tulisan ini, ilmu diibaratkan dengan air terutama jika dikaitkan dengan konsep ungkapan berbagi ilmu. Mengibaratkan ilmu seperti air dalam konteks ini tentu tak ada salahnya, bukan? Toh semua orang punya hak untuk berandai-andai.

Jika kita mengibaratkan ilmu sebagai air dalam konteks berbagi ilmu, kita bisa mengandaikan bahwa otak tempat kita menyimpan ilmu adalah ibarat bak penampungan air. Dengan demikian, seluruh panca indera yang kita miliki bisa diibaratkan sebagai pipa, baik untuk menyuplai (memasukkan) air ke dalam bak penampungan maupun untuk menyalurkan air dari bak penampungan kepada pihak yang membutuhkan.

Dari logika inilah lantas saya berandai-andai demikian. Jika semua orang di dunia ini dengan senang hati membagi air (ilmu) yang ada di bak penampungan (otak) yang dia miliki, sekecil atau sesedikit apa pun ilmu itu, tentu akan bermanfaat bagi orang lain.

Demikian juga halnya dengan seorang penulis. Beberapa kawan saya pernah mengutarakan niat mereka untuk menulis buku. Lantas saya katakan bahwa kalau ingin menulis buku, silakan saja tulis. Namun apa jawaban mereka? Mereka mengatakan kurang percaya diri karena merasa bahan (materi) yang mereka miliki dalam otak mereka belum cukup.

Mendengar jawaban semacam itu saya mengelus dada. Memang sebuah dilema ketika ketidakpercayaan diri muncul saat seseorang ingin menulis (buku). Di satu sisi mereka punya keinginan untuk melahirkan sebuah karya tulis (buku), di sisi lain rasa tidak percaya diri menghalangi terwujudnya keinginan tersebut. Ketidakpercayaan diri inilah sebenarnya salah satu permasalahan utama mengapa banyak orang di sekitar kita yang sebenarnya kita anggap berwawasan dan berpengetahuan luas namun tak juga melahirkan sebuah buku. Jika kita mau berpikir bahwa sesedikit apa pun pengetahuan atau ilmu yang kita miliki pasti akan berguna bagi orang lain, tak seharusnya ketidakpercayaan diri itu muncul.

Saat kita menetapkan niat untuk menulis buku, sebenarnya kita sudah punya modal untuk menjadi seorang penulis (buku). Tak peduli seberapa banyak bahan yang ada dalam bak penampungan air (otak) kita. Banyak ataupun sedikit, jika bahan yang ada di otak kita sudah dikemas secara menarik dalam tulisan berbentuk buku, saya yakin orang yang membacanya akan memperoleh manfaat, sesedikit apa pun itu.

Lantas mungkin muncul pertanyaan, mestikah kita menulis buku yang lengkap ataukah cukup buku sekadarnya, sesuai dengan bahan yang kita miliki di otak kita? Jawaban untuk pertanyaan ini tentu sangat relatif. Namun, menurut saya sebaiknya penulis menyesuaikan dengan stok bahan yang ada di dalam bak penampungan miliknya.

Sebagai penutup, satu hal yang mesti kita renungkan adalah lebih baik manakah menulis sebuah buku kecil yang bermanfaat bagi orang lain karena kita telah berbagi ilmu kepada mereka dibanding menunggu hingga kita punya data lengkap namun buku tak juga kunjung ditulis? Jawabannya tentu bergantung kepada pembaca sekalian. Namun yang pasti adalah untuk berbagi air (ilmu) kita tak perlu menunggu hingga bak penampungan (otak) kita penuh terisi air. Sesedikit apa pun air yang kita miliki, tentu akan bermanfaat bagi sesama di tengah dahaga yang mereka rasakan.

2 comments:

sap said...

terlepas dahagaku....

EKO SUGIARTO said...

Aamiin. Salam....