12.6.07

Menjadi Penulis (Cerpen) Yuk!

Kata ”cerpen” dalam judul di atas sengaja saya letakkan dalam kurung karena dalam tulisan singkat ini saya tidak menceritakan pengalaman saya dalam menulis cerpen, melainkan pengalaman saya menulis secara umum. Nah, kebetulan, dalam proses dan selama saya menekuni (belajar) aktivitas menulis, cerpen adalah salah satu jenis karya yang saya geluti.

Pernah suatu hari seorang kawan berkelakar. ”Jika ditanya seseorang dan disuruh memilih, di antara penulis, pengarang, penyair, cerpenis, dan novelis, manakah sebutan yang kamu suka?” Saya menjawab pertanyaan kawan saya itu dengan jawaban penulis. Lantas dia bertanya kenapa saya memilih penulis? Saya lantas berkata, ”Silakan buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bukankah salah satu pengertian penulis dalam kamus itu adalah orang yang menulis?” Lantas kawan saya bertanya, ”Wah, kalau begitu gampang dong jadi penulis?” Saya membenarkan kata-kata dia dengan mengatakan, ”Ya, gampang. Tulis saja beberapa kalimat dan Anda bisa disebut sebagai seorang penulis.” Begitulah, ketika saya menulis kalimat ini, saya sudah bisa disebut sebagai penulis.

Untuk menjadi penulis sebagaimana dalam pengertian di atas memang gampang, bahkan sangat. Namun, untuk menjadi penulis dalam artian menulis tulisan yang dipublikasikan (baik di koran, majalah, maupun dalam bentuk buku) memang lain ceritanya. Hal ini tidak lagi bisa dibilang gampang, melainkan gampang-gampang susah karena keberhasilan aktivitas ini bergantung banyak hal, salah satunya adalah motivasi mengapa kita menulis.

Jujur saja, salah satu motivasi awal saya menulis (cerpen) adalah uang. Saya tak menutupi kenyataan ini. Pasal, awal saya menenukuni dunia tulis-menulis adalah saat saya jadi mahasiswa dengan kondisi keuangan pas-pasan dan kiriman dari orang tua yang sering tersendat-sendat. Daripada saya mencuri atau mencopet untuk menambah uang saku, saya putuskan untuk menulis.

Masa-masa awal saya menulis, saya menekuni jenis tulisan artikel. Alasan saya sederhana. Artikel adalah jenis tulisan yang banyak dibutuhkan media cetak. Hitung saja jika dalam sehari sebuah media butuh dua sampai tiga artikel, dalam seminggu tentu antara 14 hingga 21 artikel dibutuhkan oleh sebuah media. Dengan demikian, peluang untuk dimuat di media akan lebih besar daripada menulis cerpen yang seminggu hanya sekali. Itulah pengalaman saya pada masa awal menekuni dunia tulis-menulis.

Setelah sempat beberapa kali dimuat (di koran lokal), saya lantas mulai merambah jenis tulisan fiksi, yaitu cerpen. Namun apakah saya lantas berhenti menulis karya nonfiksi (artikel)? Tidak. Kedua jenis tulisan itu masih saya geluti. Seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan kenikmatan menulis cerpen. Jika menulis artikel kita dituntut menyajikan sebuah tulisan yang benar-benar berpijak pada realita (fakta), ketika menulis cerpen saya bisa bermain-main dengan imajinasi. Ya, saya bisa berkhayal menjadi dan tentang apa saja, sebuah kenikmatan yang sulit (kalau tidak bisa dikatakan tidak bisa) dinilai dengan uang. Oleh karena itulah saya tetap menulis cerpen hingga sekarang, meskipun tak sesering seperti saat masih kuliah dan dua tahun pertama pascalulus kuliah.

Setelah lulus ujian skripsi (pendadaran), saya diterima bekerja di sebuah penerbit buku pelajaran sebagai editor merangkap penulis. Praktis bidang penulisan yang saya geluti bertambah, yaitu penulisan buku pelajaran. Saat itu modal saya hanya nekat karena saya sama sekali masih buta soal kurikulum.

Nah, terjawab sudah bukan mengapa saya memilih menjadi seorang penulis daripada pengarang, penyair, cerpenis, dan novelis? Ya, selain gampang sebagaimana saya uraikan dalam paragraf kedua di atas, pilihan menjadi penulis bagi saya adalah sebuah upaya untuk tidak terkotak-kotak karena seorang penulis bisa menulis berbagai karya, baik fiksi maupun nonfiksi.

8 comments:

Phie said...

mampir nih mas.. Menjadi penulis adalah sebuah pilihan. salam. (kok aku ga bisa post di shoutbox-nya yah???)

EKO SUGIARTO said...

aloo phie. menulis emang sebuah pilihan. sering2 mampir juga boleh? masa gak bisa post ke shoutbox? dah coba berapa kali?

raida said...

bejimana biar cerpen cepet diterima media yakk..hahaha..

EKO SUGIARTO said...

to raida: banyak hal yang menentukan diterima ato tidaknya cerpen kita oleh media. salah satunya adalah kesesuaian dengan visi dan misi media tempat kita mengirim karya. salam....

haris said...

saya bayangkan dunia di mana makin banyak orang menulis sehingga penulis bukan lagi makhluk langka dan menulis jadi bagian dari keg sehari2. sama seperti makan, minum, buang air,....mngkn gak mas?

EKO SUGIARTO said...

tidak ada sesuatu yang mudah, tetapi tidak ada yang tidak mungkin. itulah sebuah kata bijak yang kuyakini sejak duduk di sekolah dasar

Amma said...

betuul.menulis itu gampang2 susah.
jadi edtor? hm jadi inget ucapan pak pres komunitas merapi nih yang bilang daku ndak bisa jadi editor...huh!!

EKO SUGIARTO said...

halo amma. sama dengan menulis, jadi editor pun gampang-gampang susah. pak presiden komunitas merapi tuh cuman nakut-nakuti amma. salam....