12.2.09

Komunikasi Tradisional


Unik. Begitu kata seorang kawan saat mengomentari foto hasil jepretanku siang tadi. Ya, foto hasil jepretan di sebuah pos ronda di daerah Tlogosari Wetan, Kota Semarang, menggambarkan sebuah warisan komunikasi masa lalu. Kentongan (ada yang menulis kentungan), begitu orang di desaku dulu menyebut alat komunikasi ini.

Untuk memberikan penjelasan tentang kentongan, berikut aku kutip sumber tulisan dari situs Wikipedia (dengan sedikit pengeditan berkaitan dengan bahasa). Silakan simak.

Kentongan atau kentung-kentung adalah alat komunikasi jarak jauh tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu berongga. Kentongan dipukul untuk memberi tanda bahaya, sebagai penanda waktu, atau sebagai seruan untuk berkumpul bagi penduduk yang mendengarkannya. Pesan yang dikirim diidentifikasi melalui perbedaan ritme dan selang suara tabuhannya. Setiap daerah biasanya memiliki kode pukulan kentongan yang berbeda. Pemaknaan terhadap bunyi kentongan bergantung kebiasaan di daerah masing-masing.

Pada zaman sekarang, peran kentongan sebagai penyiar informasi telah banyak digantikan oleh peralatan komunikasi elektronik. Kentongan lebih banyak digunakan sebagai hiasan ruangan dan hanya ditabuh pada upacara-upacara adat.

Ya, begitulah. Perkembangan dunia komunikasi memang sudah begitu pesat. Meskipun demikian, gambaran akan adanya alat komunikasi tradisional berupa kentongan masih bisa kita temukan, setidaknya di beberapa pos ronda di daerah Tlogosari Wetan, Kota Semarang (mungkin juga di daerah lain) berupa papan yang bertuliskan arti tanda-tanda bunyi kentongan. Perkara tanda-tanda itu saat ini masih digunakan atau tidak, itu sudah lain persoalan. Salam.

4 comments:

azwinner said...

wah mukul kentongan ada tata cara ny juga y...
baru tw
thanx for share

Ugie said...

Iya nih. Bahkan cara mukulnya pun tiap daerah beda. He... he... he....

Shin Angsana Tirta said...

Ya,ya,ya...
Warisan yang sempat terlupa dalam kebudayaan kita.
Kalau dikampungku, tradisi itu masih dipelihara. Tabuhan Dara Muluk juga dipakai kalau ibu-ibu arisan.
Mungkin kalian akan tertawa karena kampungku masih ketinggalan jaman.
Tak apalah...

Tentang alat elektronik aku punya cerita...
Suatu hari ada klakson sebuah mobil yang berbunyi mirip sirene, begitu mobil itu lewat lagi, langsung dimaki-maki warga. Katanya ada nenek2 yang sampai pingsan, dikira itu bunyi sirene ambulans. Ada-ada saja khan???
Mungkin bunyi lain selain kentongan masih asing bagi warga...

But, I love, my village, My home, forever...

Ugie said...

he... he... he... Unik juga cerita Angsana Tirta nih. Tapi justru itulah sebuah warna lain dari kehidupan (ciee....). Ya, bagaimanapun suasana desa membuatku nyaman. trim's dah mampir. Salam....