Showing posts with label Nonfiksi. Show all posts
Showing posts with label Nonfiksi. Show all posts

11.8.15

Menyusun Proposal Penelitian

Buku ini membeberkan prinsip-prinsip dasar dalam penelitian kualitatif yang diuraikan secara runtut dan gamblang, mulai dari pengenalan singkat tentang penelitian kualitatif dan penyusunan proposal penelitian. Buku ini merupakan salah satu literatur yang disarankan bagi siapa saja yang bergelut dengan proposal penelitian, baik itu mahasiswa S-1, S-2, dosen, maupun peneliti.

Mengenal Sastra Lama

ISBN: 978-979-29-4693-2
Penulis: Eko Sugiarto
Ukuran⁄Halaman: 16x23 cm² ⁄ xii+228 halaman
Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
Tahun Terbit: 2015
Berat: 312 gram
Harga: Rp 59.000,-  
Informasi lebih lanjut silakan meluncur ke situs web penerbitnya di alamat http://andipublisher.com.

Kitab EYD


ISBN: 978-979-29-4642-0
Penulis: Eko Sugiarto
Ukuran⁄Halaman: 16x23 cm² ⁄ x+326 halaman
Edisi⁄Cetakan: I, 1st Published
Tahun Terbit: 2014
Berat: 437 gram
Harga: Rp 75.000,-

EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dakam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan Bahasa Indonesia/kalimat dalam tulisan, mulai dari aturan pemakaian/penulisan huruf capital dan huruf miring, tanda baca hingga unsur serapan.

Pada saat berbahasa Indonesia dalam bentuk tulisan, pedoman-pedoman dan kaidah EYD wajib dikuasai dan diketahui untuk digunakan oleh semua orang sehingga ketepatan dan kejelasan makna dalam bertutur, menyampaikan, mengungkapkan informasi, maksud dan atau segala sesuatu yang ada dalam pikirannya dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
Info selengkapnya klik http://andipublisher.com

2.7.12

MASTER EYD



SINOPSIS


Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) seyogianya menjadi acuan dalam berbahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia yang kita gunakan tidak hanya baik, melainkan juga benar.

Agar terbiasa berbahasa Indonesia secara baik dan benar, keberadaan buku tuntunan praktis tentang EYD mutlak diperlukan. Atas dasar inilah buku Master EYD ini diterbitkan.

Buku ini membahas secara gamblang tentang penerapan berbagai kaidah EYD, terutama tentang:
      • Pedoman Pemakaian Huruf
      • Pedoman Penulisan Kata
      • Pedoman Pemakaian Tanda Baca
      • Pedoman Transliterasi Arab-Latin
      • Pedoman Penulisan Kutipan dalam Karya Ilmiah
      • Pedoman Penulisan Daftar Pustaka
      • Pedoman Penulisan Gelar Akademis
      • Pedoman Umum Pembentukan Istilah

          Selain itu, buku ini dilengkapi senarai kata baku populer bahasa Indonesia yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta mudah dipahami. UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan membuat isi buku ini semakin lengkap.

          Buku ini penting dan bisa menjadi rujukan bagi pelajar, guru, mahasiswa, dosen, peneliti, penulis, penerjemah, editor, wartawan, praktisi media cetak dan elektronik, serta para praktisi periklanan. Semoga buku ini bisa memberi sumbangan nyata bagi perkembangan bahasa Indonesia, khususnya dalam hal penerapan kaidah EYD.

          30.9.10


          Sementara mengerjakan naskah yang tak juga kunjung kelar, sebuah paket dari penerbit dikirim ke rumah beberapa hari yang lalu. Naskah yang lumayan lama kutunggu akhirnya terbit juga. Yuk ngakak sampai perut bengkak? Hahahahahah…..

          19.2.10

          Pak Pos dan Buku Baru

          Pukul 13.00 lebih sedikit, awan pekat menggelayut di atas Kota Semarang. Wah, bakal hujan lebat, pikirku. Aku mulai menimbang-nimbang apakah akan pergi ke kantor lebih awal atau tetap berangkat seperti biasa sembari menunggui kedua anakku tertidur. Belum sempat aku memutuskan untuk segera berangkat atau menunda sejenak menunggu anakku sampai tertidur, hujan turun tiba-tiba. Ah, alamat bakal melalui genangan air sepanjang jalan menuju kantor neh.

          Hingga pukul 14.00 hujan belum juga reda. Aku beranjak dari kamar anakku menuju ruang tamu. Mencari tempat yang lebih hangat dibanding kamar anakku yang selalu digelontor udara dingin dari AC. Akhirnya aku berbaring di sofa.

          Pukul 15.00 lebih sedikit hujan reda, tetapi masih menyisakan sedikit gerimis. Aku membuka pintu depan. Sebuah sepeda motor terdengar berhenti di pagar depan rumah. Namun, aku cuek saja. Beberapa detik kemudian, terdengar suara memanggil. Aku keluar dan membuka pagar.

          Dengan jaket sedikit basah, seorang petugas kantor pos menyodorkan sebuah bungkusan. Aku tersenyum sembari berkata dua-tiga kalimat. Sebelum menandatangani tanda terima, aku baca pengirim paket itu. Oh, rupanya dari penerbit. Aku langsung menyerahkan bungkusan itu kepada salah seorang anakku. Meskipun belum membukanya, aku menduga bahwa bungkusan itu berisi buku bukti terbit.

          7.9.09

          Kreasi Nama Hoki untuk Buah Hati


          Nama adalah sebagian doa sekaligus harapan dari si pemberi nama kepada orang yang dinamai. Dengan demikian, di balik sebuah nama tersirat makna yang sangat dalam. Oleh karena itu, dalam memilihkan nama untuk anak, orang tua biasanya akan mempertimbangkan beberapa faktor. Salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah unsur keberuntungan atau hoki, khususnya keberuntungan secara materi.

          Buku ini memuat daftar sebagian nama dari berbagai bahasa yang mengandung makna hoki. Daftar ini saya sarikan dari berbagai sumber dengan pertimbangan utama adalah makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, dalam buku ini juga diuraikan tentang arti penting sebuah nama, seluk-beluk sebuah nama, tradisi pemberian nama di beberapa suku bangsa, serta cara merangkai nama hoki, baik untuk satu bayi mapun untuk bayi kembar.

          Semoga buku ini bermanfaat. Selamat berkreasi dan semoga keberuntungan selalu tercurah kepada Anda dan keluarga Anda.

          28.8.09

          Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa


          ”Jika kamu melakukan apa yang selalu kamu lakukan, kamu akan mendapatkan apa yang selalu kamu dapatkan.” Begitu salah satu kata-kata bijak Albert Einstein. Jika direnungkan, kata-kata ilmuwan terbesar abad ke-20 ini bisa juga berarti bahwa jika kamu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih daripada yang didapat oleh kebanyakan orang, lakukanlah sesuatu yang lain.

          Nah, lantas bagaimana jika ternyata karena suatu hal kita tidak bisa melakukan sesuatu yang lain? Jawabannya adalah ubahlah cara kita. Dengan demikian, kita melakukan sesuatu yang sama tetapi dengan cara yang berbeda.

          Sekarang mari kita teliti apa yang kita dapatkan selama ini. Setelah itu, kita renungkan dengan cara seperti apa selama ini kita mendapatkan semua itu. Nah, berapa kali dan berapa lama kita melakukan cara yang sama? Bagaimana hasil dari proses yang kita lakukan dengan cara yang selalu sama itu? Ternyata hasilnya”relatif” sama.

          Demikian juga dengan kuliah. Berapa banyak mahasiswa di negeri ini yang selalu menjalani perkuliahan dan kehidupan ala mahasiswa pada umumnya? Lantas coba kita amati, apa hasil dari sebuah proses yang nyaris seragam ini? Jawabannya tentu bisa ditebak, yaitu hasil yang sama. Entah itu nilai hasil ujian di kisaran angka yang sama, entah itu waktu studi yang nyaris seragam, ataupun permasalahan setelah lulus yang juga sama: menjadi pengangguran. Kenyataan itulah yang mendorong lahirnya buku ini.

          Buku ini akan membantu kamu dalam hal memahami dan menyiasati sistem perkuliahan; mengerti prospek karier dan merencanakan sasaran masa depan; strategi jitu jika ternyata kamu salah dalam memilih jurusan; membangun jaringan untuk fondasi kesuksesan karier pascakuliah; serta melatih kemampuan bekerja sejak masih kuliah.

          5.8.09

          Tulisan Lama dari Lemari Kecil Ika

          Buku : The Secret Of Sleep

          Penulis : Eko Sugiarto

          Penerbit : Prestasi Pustaka Publisher

          Ukuran : 11 x 19.5 cm

          Tebal : 76 halaman

          Harga : Rp. 17.000,-

          Kesibukan manusia di zaman ini terkadang membuatnya lupa bahwa sebenarnya tubuhnya butuh istirahat. Karena lupa istirahat, ketika jatuh sakit manusia baru sadar bahwa selama ini waktunya untuk beristirahat sangat kurang. Sakit adalah respon alami dari tubuh kita yang keletihan. Bentuk istirahat yang paling baik adalah tidur. Lantas, mengapa tidur dikatakan sebagai istirahat yang paling baik? Lalu berapa jamkah waktu yang mesti kita alokasikan untuk tidur dalam sehari? Bagaimana ciri-ciri tidur yang berkualitas? Bagaimana melawan insomnia tanpa harus mengkonsumsi obat? Bagaimana cara memprogram tidur agar bisa bangun pada jam tertentu sesuai dengan yang kita inginkan?

          Sedikit cuplikan pengantar dari penulis diatas membuat kita ingin mengetahui lagi lebih dalam mengenai tidur. Umumnya yang kita semua hanya mengetahui tentang tidur sebatas suatu kegiatan dimana kita melakukan istirahat untuk melepaskan lelah dengan kondisi diri kita dalam keadaan tidak sadar.

          Sebenarnya dibalik itu, banyak rahasia dan manfaat yang terkandung pada kegiatan tidur tersebut. Tidur merupakan aktivitas berisitirahat yang paling baik, tapi tidak semata-mata itu saja, karena tidur merupakan aktivitas yang dapat memberikan kita ide atau inspirasi. Mengapa demikian? Karena meskipun kita sedang melakukan tidur, pikiran bawah sadar kita tetap terjaga dan bahkan berusaha memberikan jawaban dan solusi atas permasalahan kita. Sama persis dengan pengalaman yang dialami oleh penulis, yang dijabarkan dengan jelas dalam buku ini.

          Perlu kita ketahui, bahwa sebenarnya tidur itu dapat kita program. Dapat kita atur, sama halnya seperti kita mengatur jadwal kegiatan kita sehari-hari yang kita tulis dalam buku agenda. Kita merasa menjadi manusia yang sok sibuk apabila di buku agenda kita sudah dipenuhi dengan jadwal kegiatan yang seabrek-abrek, sehingga aktivitas tidur yang merupakan salah satu hal yang penting akan dianggap tidak penting karena sudah disibukkan dengan kegiatan lain. Kita contohkan saja, umumnya jam istirahat karyawan yang bekerja di Jakarta itu adalah 1 jam. Untuk makan siang bilanglah perlu 20-30 menit, lalu bagi yang muslim melakukan sholat yang kurang lebih memerlukan waktu 5-10 menit, masih tersisa 20 menitan. Dari sisa waktu tersebut bisa digunakan untuk beristirahat untuk tidur sejenak melepaskan lelah, karena aktivitas tidur siang merupakan aktivitas yang baik.

          Selama ini mungkin umumnya semua orang tidak terlalu memperdulikan manfaat dari tidur siang. Padahal dengan kita menyisihkan waktu sedikit saja untuk tidur siang, itu dapat membantu kita menyegarkan fisik dan pikiran yang sudah setengah hari terpakai untuk bekerja, sehingga setelah bangun tidur siang kondisi tubuh kita akan lebih baik untuk meneruskan perkerjaan kembali.

          Banyak sekali manfaat dari aktivitas tidur ini, tetapi dikondisi yang berbeda, tidak sedikit juga orang-orang memiliki kesulitan untuk melakukan aktivitas tidur. Jadi, jangankan manfaat tidur, untuk melakukan aktiitasnya pun sulit. Hal ini sering kita sebut dengan Insomnia. Apa itu Insomnia? Insomnia adalah suatu keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang. Insomnia meliputi gangguan-gangguan yang mengawali, mengiringi, dan mengakhiri tidur.

          Kita ketahui bahwa setiap masalah pasti ada solusi dan jalan keluarnya. Sama halnya dengan keluhan ada kesulitan untuk melakukan aktivitas tidur atau keluhan Insomnia. Selama ada keyakinan dan kemauan untuk mencari dan melakukan semua cara untuk sembuh, pasti keluhan-keluhan tersebut akan hilang dan hasilnya pun akan sembuh. Untuk tahu lebih banyak manfaat dari tidur, serta bagaimana mendapat solusi untuk menyembuhkan insomnia, The Secret Of Sleep akan memberikan dan membantu kita mengetahui bagaimana cara mendapat istirahat yang berkualitas. Jagalah pikiran kita agar tetap sehat, sehingga tubuh kita pun akan menjadi tubuh yang sehat. (Sumber: http://lemarikecil.blogspot.com)

          17.5.09

          Dua Buku Baru

          Dua buku baru saja kuterima dari penerbit (tapi kayaknya sudah sejak Sabtu kemarin ada di meja kerja kantorku tetapi baru kubuka sore ini karena kemarin aku libur). Buku pertama berjudul Mengenal Dongeng dan Prosa Lama. Kedatangan buku ini sebenarnya sudah kuketahui karena pada Jumat (15 Mei 2009) pihak penerbit meneleponku, menyatakan bahwa siang itu mereka mengirim buku bukti terbit. Buku kedua berjudul How Confident Are You? (Resep Oke Tampil Pede). Nah, kalau buku yang kedua ini aku belum mendapat pemberitahuan sebelumnya sehingga kedatangannya sedikit mengejutkanku (meskipun aku yakin suatu saat pasti akan datang karena surat perjanjian penerbitan sudah kutandatangani).

          Buku berjudul Mengenal Dongeng dan Prosa Lama merupakan pelengkap buku Mengenal Pantun dan Puisi Lama yang telah terbit terlebih dahulu. Buku ini merupakan buku penunjang pelajaran bagi siswa SD, SMP, dan SMA (sebenarnya cocok juga buat bacaan para mahasiswa sastra dan mereka yang tertarik pada sastra lama, khususnya karya sastra berbentuk prosa). Adapun prosa lama yang dibahas dalam buku ini adalah fabel, legenda, mite, sage, epos, hikayat, dan lain-lain.

          Kini beralih ke buku kedua. Buku berjudul How Confident Are You? (Resep Oke Tampil Pede) ini sebenarnya sudah agak lama ada di penerbit (judul How Confident Are You? berasal dari penerbit). Namun, akhirnya terbit juga. Buku ini mengupas tentang seluk-beluk sifat pemalu (malu dalam pengertian negatif) serta aneka tips untuk keluar dari sifat pemalu tersebut.

          Oke. Mungkin itu saja kabar bulan ini. Silakan berburu kedua buku itu di toko-toko buku (soale buku-buku itu gak dijual di toko bahan bangunan lho). Jangan lupa tunggu buku-buku lain yang segera menyusul. Salam….

          3.4.09

          Buku Ujian Skripsi

          April. Bulan keempat ini stok naskah sudah habis. Cuman tertinggal satu naskah yang masih menunggu kabar dari penerbit alias masih menggantung.

          Target enam naskah yang mesti kuselesaikan selama tahun ini baru satu yang terealisasi. Masih kurang lima naskah. Namun, aku tetap bersyukur karena satu naskah tersebut sudah disetujui oleh sebuah penerbit untuk diterbitkan. (Semoga Tuhan memberi kemudahan kepadaku sehingga target lima naskah yang tersisa bisa kuselesaikan.)

          Kamis, 2 April 2009. Aku mendapat dua bungkusan. Satu amplop besar berisi surat perjanjian penerbitan naskah yang baru aku selesaikan Februari lalu, sedangkan satu bungkusan berisi buku bukti terbit. Naskah buku yang terbit tahun 2009 ini kutulis tahun 2008. Setelah sekian lama menunggu jadwal terbit, akhirnya terbit juga.

          Buku ini kuberi judul Sukses Ujian Skripsi: Sebuah Skenario Menghadapi Ujian Skripsi. Buku ini aku tulis karena melihat begitu banyak mahasiswa yang menganggap bahwa ujian skripsi adalah momok. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Jika menguasai tips dan trik seputar skripsi, ujian skripsi akan menjadi sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan. Lantas apa saja tips dan trik yang saya maksud, silakan baca buku ini.

          30.11.08

          Lagi, Resensi Buku Soeman

          Satu Wajah, Dua Muka...

          Oleh DAMHURI MUHAMMAD

          Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.

          Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.

          Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk Melayu di Mata Soeman Hs (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman Kasih Tak Terlerai (KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?

          Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.

          Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Azab dan Sengsara (1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.

          Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.

          Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.

          Double casting ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….

          DAMHURI MUHAMMAD Cerpenis, Bermukim di Jakarta

          (Sumber: Kompas edisi Minggu, 30 November 2008)

          12.6.08

          Sekilas tentang Tidur

          Ketika masa-masa awal bekerja malam hari, aku merasa kehabisan waktu. Pasal, sepanjang siang waktuku hanya habis untuk tidur.

          Aku biasa masuk kantor lebih kurang pukul 15.00. Oleh karena itu, biasanya aku berangkat sebelum pukul 15.00. Sepanjang sore hingga malam aku menghabiskan waktu di kantor dan baru tiba kembali di indekos (ketika itu aku masih indekos), saat jam dinding di kamarku menunjuk angka 12. Terkadang kalau pulang cepat, jarum pendek berada di antara angka 11 dan angka 12, sedang jika sedang ”tidak beruntung” biasanya aku sampai indekos saat jarum yang pendek sudah meninggalkan angka 12.

          Sampai di indekos biasanya aku tidak langsung tidur. Ada saja yang aku lakukan. Meskipun demikian, keesokan paginya aku harus tetap bangun untuk shalat Subuh (walau lebih sering telat). Setelah shalat Subuh, aku biasanya tidur kembali dan baru bangun saat azan Zuhur berkumandang. Jika ada acara, biasanya aku bisa bangun pagi-pagi sebelum pukul 10.00. Namun, hal ini aku lakukan hanya sesekali, biasanya seminggu sekali saat hari Sabtu ketika akan pulang ke Yogyakarta.

          Dengan pola tidur semacam itu, hari rasanya berlalu begitu saja. Waktu yang kugunakan untuk tidur sebenarnya sudah lebih dari cukup, bahkan bisa dibilang justru sangat berlebihan. Namun, sesekali aku merasakan badan tidak segar hingga aku menyadari bahwa sebenarnya ada yang salah dengan pola tidurku. Pola tidur yang kuterapkan ketika itu bukanlah pola tidur yang baik. Sekarang aku punya pola tidur yang relatif efektif. Kukatakan relatif efektif karena dengan pola tidur yang sekarang, aku masih bisa menikmati udara pagi beserta sinar matahari pagi, bermain dengan kedua anakku, mengantar istri belanja, menulis naskah buku, dan tetap bekerja pada malam hari.

          Kesibukan manusia di zaman sekarang terkadang membuatnya lupa bahwa sebenarnya tubuhnya butuh istirahat. Karena lupa istirahat, ketika jatuh sakit manusia baru sadar bahwa selama ini waktunya untuk beristirahat sangat kurang. Sakit adalah respons alami dari tubuh kita yang keletihan.

          Bentuk istirahat yang paling baik adalah tidur. Lantas, mengapa tidur dikatakan sebagai istirahat yang paling baik? Lalu berapa jamkah waktu yang mesti kita alokasikan untuk tidur dalam sehari? Bagaimana pula ciri-ciri tidur yang berkualitas? Bagaimana melawan insomnia tanpa harus mengonsumsi obat? Bagaimana cara memprogram tidur agar bisa bangun pada jam tertentu sesuai yang kita inginkan?

          Jawaban atas pertanyaan di atas dapat Anda temukan dalam buku baruku. Sebuah buku kecil yang berusaha menyingkap berbagai rahasia tidur yang mungkin belum Anda ketahui. Sebuah rahasia yang akan membuat Anda semakin mantap mengarungi samudera kehidupan yang kian penuh tantangan. Salam.

          12.3.08

          Resensi Buku tentang Soeman Hs


          Perlawanan Seorang Sastrawan
          Oleh Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)


          Judul Buku: Melayu di Mata Soeman HS.
          Penulis: Eko Sugiarto
          Penerbit: BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
          Cetakan: I, 2007
          Tebal: viii + 113 halaman


          Ketika keadilan tak lagi dirasakan masyarakat, perlawanan adalah jalan satu-satunya. Namun, bagaimana menghindari perlawanan itu dari pertumpahan darah, hanya para sastrawanlah yang tahu jalannya. Perlawanan terhadap budaya atau adat istiadat sering dilakukan oleh sastrawan melalui karya-karya mereka. Masih teringat di benak kita kisah Siti Nurbaya yang diangkat menjadi sebuah novel sebagai bentuk perlawanan adat dan budaya perjodohan. Pun Soeman HS, ia menghadirkan karya sastra dalam bentuk novel Kasih Tak Terlarai (1930) sebagai bentuk perlawanan terhadap adat Melayu saat itu.

          Buku Melayu di Mata Soeman HS ini merupakan telaah analitis terhadap novel Kasih Tak Terlarai karya Soeman HS. Eko Sugiarto, penulis buku ini, sengaja mengulas dan menelaah novel Soeman HS melalui teori mitos Levi-Strauss. Melalui pintu penjelasan mitologis inilah, Eko Sugiarto mencoba membangun argumennya tentang `misi perlawanan` yang dibawa oleh Soeman HS di dalam novelnya.

          Membaca buku ini, pembaca akan dibawa ke dalam pemahaman yang komprehensif tentang tata cara menganalisis atau mengkritik sebuah karya sastra. Secara runtut, penulis buku ini telah merangkum dan menganalisis novel Kasih Tak Terlarai ke dalam dua pijakan analisis, yaitu sintagmatik dan paradigmatik. Berdasarkan analisis sintagmatik, episode-episode dalam novel dikelompokkan ke dalam sepuluh episode. Hal tersebut didasarkan atas konsep hukum transformasi dalam strukturalisme Levi-Strauss, yaitu berupa pengulangan-pengulangan (regularities) (hlm. 100). Analisis paradigmatik dilakukan dengan cara mencari struktur di dalam novel tersebut, yaitu dengan membuat oposisi biner terhadap episode-episode yang telah dibuat (hlm. 104). Berdasarkan analisis tersebut, didapatkan pemahaman bahwa kisah di dalam novel bertujuan mendedah cara pandang masyarakat terhadap status sosial yang menghalangi penyatuan dua insan yang dimabuk cinta.

          Dalam novel Kasih Tak Terlarai, Soeman HS mengulas bagaimana status sosial seseorang menjadi tembok penghalang bagi bertemunya cinta. Melalui goresannya, Soeman HS melakukan perlawanan terhadap adat dan cara pandang masyarakat Melayu terhadap status sosial yang menentukan nasib dan jodoh seseorang. Strata sosial, suku, dan keturunan menjadi topik utama yang dihadirkan dalam novel tersebut. Bagaimana mengemas perlawanan tanpa pertumpahan darah dengan mudahnya dilakukan oleh Soeman HS. Ia mengemas kisah novelnya secara apik nan rapi, dengan efek kejut di akhir cerita yang menyadarkan pandangan banyak kalangan.

          Si Taram, demikian sang tokoh utama, hidup dalam keluarga yang terhormat. Cintanya bertepuk sebelah tangan disebabkan adanya perbedaan status sosial. Ternyata, si Taram hanyalah anak angkat, meski diasuh dalam keluarga terhormat. Wujud perlawanan yang dihadirkan oleh Soeman HS dalam novel ini ialah tatkala si Taram melarikan sang impian hati merantau ke negeri seberang setelah pinangannya ditolak. Perlawanan kedua terjadi kala si Taram menjelma menjadi Syekh Wahab, seorang ulama kenamaan yang mengaku berasal dari tanah Arab. Penjelmaan si Taram menjadi Syekh Wahab merupakan bentuk perlawanan si Taram guna menyadarkan masyarakat Melayu yang konon mengagungkan bangsa Arab dan menganggap semulia-mulia bangsa dibandingkan dengan orang Melayu (hlm. 110). Melalui Syekh Wahab yang tak lain adalah si Taram itu sendiri, Soeman HS bermaksud menyadarkan masyarakat Melayu agar tak lagi meyakini suatu etnis atau bangsa tertentu sebagai yang paling mulia. Kebangsawanan atau keturunan tidak dapat dijadikan tolak ukur dalam memuliakan seseorang. Demikianlah, si Taram dihadirkan sebagai simbol perlawanan.

          Buku ini merupakan kajian kritis terhadap sebuah karya sastra. Telaahnya yang rinci dan detail memudahkan pembaca memahami deskripsi cerita yang diangkat dari novel Kasih Tak Terlarai tanpa harus membaca utuh novel aslinya. Analisisnya pun cukup mempertajam penjelasan dan pemaknaan cerita. Sistematika yang runtut dan bahasanya yang mudah dimengerti menjadikan buku ini layak untuk dijadikan rujukan dan model bagi pembaca yang ingin menganalisis sebuah karya sastra.

          (Sumber melayuonline.com)

          1.10.07

          Buku Baru Bulan Ini

          Hari pertama Oktober 2007. Satu lagi buku baru dariku. Buku ini berisi panduan menulis skripsi. Kata seorang kawan, sebenarnya buku ini sudah ada di meja kantorku sejak Sabtu (29 September) lalu. Cuman, hari itu aku kan libur. So, baru bisa posting hari ini, 1 Oktober 2007. Berikut kutipan dari kata pengantar buku itu.

          Ketika menjalani masa bimbingan skripsi, saya sempat berkata dalam hati, ”Ternyata menyusun skripsi tidak sesulit yang saya bayangkan. Kalau proposal kita jelas arahnya, tak banyak hambatan yang muncul. Semua lancar-lancar saja?” Ya, itulah yang pernah terlintas di kepala saya saat masa bimbingan skripsi.

          Dari pengalaman itulah lantas terbersit niat untuk membagi pengalaman menyusun (proposal) skripsi tersebut kepada orang lain dengan jalan menyajikan sebuah buku tentang bagaimana langkah menyusun sebuah proposal skripsi. Baru setelah tiga tahun lepas dari status mahasiswa alias lulus, niat untuk menulis buku ini terlaksana.

          Mengapa saya menulis buku yang fokus pada proposal dan tidak ikut-ikutan menulis buku yang membedah tentang sebuah skripsi, apalagi dengan mencantumkan hal-hal yang sebenarnya sudah sangat umum, misalnya melampirkan naskah tentang kaidah kebahasaan (EYD)? Pasal, dari pengamatan saya selama menyusun skripsi dan selama bergaul dengan para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, kesulitan yang paling sering muncul adalah justru saat akan menyusun proposal penelitian. Padahal, proposal penelitian adalah sebuah langkah awal sebelum memasuki tahap berikutnya. Jika di awal saja sudah mengalami kesulitan, dapat dipastikan mahasiswa tersebut akan sulit untuk melangkah ke tahap berikutnya.

          Banyak di antara para mahasiswa yang menganggap proposal skripsi tidak begitu penting. Namun ketika mereka sampai pada tahap penyusunan skripsi, mereka baru pontang-panting mencari bahan literatur teori untuk memperkuat analisis. Padahal, seharusnya landasan teori sudah matang di proposal.

          Ada juga sebagian mahasiswa yang sebenarnya menganggap penting sebuah proposal skripsi. Namun karena mereka merasa kesulitan menyusun proposal skripsi, akhirnya pelan-pelan mereka juga menganggap proposal skripsi bukan sesuatu yang penting dan muncullah masalah saat memasuki tahap analisis....

          25.9.07

          Buku Ketiga September

          Sabtu kemarin (22 September 2007) aku jalan-jalan ke Gramedia Pandanaran Semarang. Rencana sih lihat-lihat buku, siapa tahu ada yang menarik untuk dibeli. Iseng-iseng aku coba cek buku apa saja yang kutulis yang sudah masuk itu toko. Eh, ternyata tambah lagi satu buku baru. Judulnya Kaya Bukan Dosa. Karena aku belum mendapatkan bukti terbit dari penerbit, langsung saja kuambil satu buku. Aku lantas melanjutkan berkeliling ke sela-sela rak di toko itu.

          Di bagian buku anak, aku tertarik saat melihat beberapa judul buku. Aku berhenti beberapa saat untuk memilih buku yang akan kubeli hingga akhirnya (aku lupa pastinya) empat ato lima buku anak kubeli. Lantas aku meluncur ke rak pendidikan. Aku ambil satu buku lagi. Terakhir, saat sampai di bagian kesehatan, aku ambil satu buku lagi. Dengan tas belanja berisi beberapa buku, aku menuju kasir. Ambil ”kartu sakti” buat diskon, lantas bayar di kasir dan ngeloyor pulang. Sampai hari ini, baru buku Kaya Bukan Dosa yang kubolak-balik sekilas. Sedangkan buku-buku lain, sama sekali belum kubuka. He… he… he….

          9.9.07

          Buku Kedua September

          Buku baru … buku baru….. Lagi-lagi buku baru kawan-kawan. Kali ini Penerbit Cakrawala menerbitkan naskahku berjudul Cari Kerja Lewat Internet. Berikut kutipan sampul belakang buku ini.

          Cari kerja itu mudah. Asal tahu caranya, kita bisa dengan mudah memperoleh pekerjaan yang kita inginkan. Gak perlu lagi menunggu lama dan gak perlu lagi ribet ngurusin masalah surat-menyurat yang bikin kantong kita bolong. Cukup nongkrong di warnet, dan … wusss! Puluhan lamaran pun segera terkirim.

          Zaman sekarang, banyak perusahaan yang merasa gak perlu lagi memasang iklan lowongan di koran. Biasanya mereka menayangkan iklan lowongan ini di website resmi perusahaan atau nebeng pada situs-situs yang memang khusus memuat iklan-iklan lowongan pekerjaan dari berbagai macam perusahaan.

          Buku ini akan memandu kamu memahami segala macam aktivitas yang berkaitan dengan pencarian kerja lewat internet. Dari cara mencari lowongan kerja di internet melalui milis dan situs-situs lowongan kerja hingga cara mengirim lamaran lewat e-mail. Semuanya dijelaskan dalam bahasa yang mudah. Kamu pun dapat mengirimkan surat lamaran dengan lebih CEPAT dan lebih GAYA.

          6.9.07

          September Ceria

          September Ceria. Wuih, keterlaluan gak ya kalo kusebut September tahun ini dengan istilah September Ceria? Memang kenapa sih?

          Hari ini, usia bulan September belum genap seminggu. Pasal, ini baru tanggal 6, tapi sebuah bungkusan telah kuterima di tanggal (yang kata orang) muda ini. Isinya? Tentu buku. Buku baru.

          Ya. Satu lagi buku baru terbit. Buku ini awalnya adalah skripsiku. Kusesuaikan di sana-sini. Beberapa bagian kupoles dan akhirnya bisa menjadi sebuah naskah yang sedikit berbeda. Naskah buku.




          Judul:
          Melayu di Mata Soeman Hs (Kritik terhadap Adat Lewat Sebuah Novel)
          Penyelaras Bahasa:
          Iyan Wb
          Tebal:
          113 halaman + viii
          Penerbit:
          Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
          bekerja sama dengan
          Adicita Karya Nusa
          Cetakan Pertama, Agustus 2007

          15.5.07

          Bedah Buku Kuliah Cepat

          Sabtu, 12 Mei 2007. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta tampak berseliweran beberapa mahasiwa dengan jas alamamater. Dua di antara mereka menyambut kedatanganku.

          ”Pagi, Pak.”

          ”Pagi. Maaf terlambat 10 menit,” kataku sembari menjabat tangan mereka. Sebelumnya aku memang sudah izin akan datang terlambat karena mesti menambalkan ban kendaraan yang bocor.

          ”Belum terlambat kok Pak. Peserta belum datang. Baru beberapa orang.”

          ”O, ya?” kataku.

          ”Ya. Biasalah. Jam karet,” kata salah seorang dari mereka.

          Kami lantas berjalan beriringan naik ke lantai dua. Di sana, beberapa mahasiswa dengan jas alamamaternya menyambutku. Lantas kami ngobrol sebentar sembari menikmati segelas air mineral. Tak lama kemudian, datang seorang kawan, Stevi, penjaga gawang Komunitas Terminal Tiga.

          Kami ngobrol sebentar. Beberapa menit kemudian, kami masuk ke Ruang Ki Hajar Dewantara, salah satu ruang di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Mataku tertuju ke salah seorang yang duduk di bagian belakang dengan pakaian batik. Kami bersalaman, lantas sama-sama berjalan ke depan dan akhirnya duduk di deretan paling depan. Beliau adalah Ketua Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta yang akan memberikan sambutan pada acara bedah buku salah satu karyaku, Kuliah Cepat, Kerjaan Dapat.

          Ya, hari itu Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta mengadakan bedah buku Kuliah Cepat, Kerjaan Dapat. Aku lebih banyak cerita penyebab mengapa banyak sarjana menganggur. Beberapa penyebab yang kuuraikan adalah karena (1) salah jurusan saat kuliah; (2) berlama-lama di kampus; (3) terganjal indeks prestasi; (4) tidak mau menyeberang ke bidang lain di luar disiplin keilmuannya; dan (5) mengincar lowongan PNS. Di luar dugaan, ternyata para peserta di ruang itu mengaku punya pengalaman yang sama, yaitu poin pertama, salah jurusan. Benar-benar gak nyangka.

          Nah, adakah di antara pembaca yang pernah merasa salah jurusan saat kuliah? Ya, kalo salah jurusan saat naik bus mungkin beberapa kali ya. Cuman kalo salah jurusan saat kuliah, tentu lain ceritanya. Silakan berbagi cerita. Salam.

          25.4.07

          Skripsiku Bakal Diterbitkan

          Seneng banget. Itu kira-kira yang kurasakan hari ini. Setelah menunggu sekian lama, hari ini aku terima surat perjanjian penerbitan naskah skripsiku. Ya, naskah skripsi yang kuselesaikan tahun 2003 itu akhirnya bakal bisa dibaca oleh lebih banyak orang, tak hanya menghuni rak perpustakaan kampus.

          Skripsiku berisi analisis sebuah novel karya Soeman Hs, salah seorang pengarang periode Balai Pustaka. Novel yang kuanalisis berjudul Kasih Tak Terlarai. Bagaimana isi skripsi itu, silakan tunggu buku yang bakal meluncur ke pasar dalam waktu dekat. Adapun judul buku ini adalah Melayu di Mata Soeman Hs: Kritik terhadap Adat Lewat Sebuah Novel. Mohon doa pembaca sekalian. Salam….