Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

15.2.13

Satu Lagi...

Nah, ini dia satu lagi buku yang sempat aku singgung dalam posting sebelumnya. Informasi lebih lanjut silakan meluncur ke situs web penerbitnya di alamat http://andipublisher.com.

6.1.13

Humor 2012



Sebenarnya ada 3 buku humor yang siap terbit tahun 2012. Akan tetapi, baru dua judul yang sudah ada di toko. Untuk sementara, satu judul masih belum bisa ditemukan di toko buku. Adapun dua judul yang sudah bisa didapatkan di toko buku adalah:

1. Apel Malang, Apel Washington, & Semangka: Rujak Humor ala Koruptor (Info selengkapnya klik http://andipublisher.com).
2. Humor Sederhana Ada-ada Saja 100% Gokil (Info selengkapnya klik http://andipublisher.com).

Salam Humor!!!

18.1.12

Tulisan Lama dari Amelia


Ada Cinta dalam ‘Sekumpulan Surat kepada Cinta’

by Amelia Fitriani


Judul: Sekumpulan Surat kepada Cinta

Penulis: Eko Sugiarto
Penerbit: MASmedia Buana Pustaka
Cetakan: I, 2008
Tebal: 154 halaman

Cinta merupakan tema yang umum digunakan oleh banyak penulis untuk kerangka tulisanya. Karena banyaknya yang menggunakan tema itu, muncul tantangan tersendiri bagi penulis yang ingin mengangkat tema tersebut untuk ‘mendandani’ tulisanya agar tidak membuat pembaca jenuh. Salah satu penulis yang mencoba memoles tema tersebut adalah Eko Sugiarto dalam buku antologi cerpen ‘Sekumpulan Surat kepada Cinta’.

Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen yang sepuluh diantaranya pernah dipublikasikan di berbagai media sebelum dibukukan, tiga diantaranya adalah “Balkon” (Borneonews, 4 Februari 2007), “Maaf, Senja ini Aku Tak mengirim Bunga” (Koran Tempo, 19 Maret 2006), “Perempuan Tanpa Nama” (Padang Ekspress, 15 Oktober 2006), dan tujuh cerpen lainya yang pernah dipublikasikan sebelumnya.

Eko Sugiarto mencoba seinteraktif mungkin membaurkan pembaca untuk terlibat emosi dalam tulisanya dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu ‘aku’ yang digambarkan sebagai seorang lelaki dan menjadikan pembaca sebagai lawan bicaranya, yaitu tokoh ‘kamu’ yang selalu digambarkan sebagai seorang wanita. Namun dalam beberap cerpen Ugie memasukkan tokoh ‘dia’, seperti dalam cerpen ‘Balkon’. Sudut pandang orang pertama itu digunakan dalam semua cerpen di buku ini, kecuali cerpen ‘kamar 305’ yang menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Hal yang juga unik dari buku ini adalah kekonsistenan Ugie untuk tidak menceritakan secara utuh permasalahan yang terjadi dalam tiap cerpenya. Ia bisa dibilang hanya memberikan fragmen utama dari cerita tersebut, sedangkan fragmen pendukung yang sebenarnya juga penting, dihilangkan. Fragmen yang sering dihilangkan itu adalah fragmen sebab atau alasan yang melatarbelakangi seorang tokoh mampu melakukan suatu hal yang mengejutkan pembaca. Seperti misalnya dalam cerpen ‘Dering telepon Setelah Bedug Lohor’ yang menghilangkan fragmen alasan mengapa tokoh ‘kamu’ memutuskan untuk menceraikan tokoh ‘aku’, atau cerpen ‘kamar 305’ yang kehilangan alasan mengapa tokoh sang istri tega membunuh suaminya yang sakit. Sehingga pembaca dibuat menerka-nerka untuk melengkapi sendiri puzzle fragmen yang hilang itu.

Membaca cerita-cerita dalam buku ini sama halnya seperti kita membaca surat. Ada cerita yang dikomunikasikan secara tidak langsung dan ada interaksi yang dibuatnya. Hal itu bisa jadi merupakan alasan mengapa buku ini di beri judul ‘Sekumpulan Surat kepada Cinta’. Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin meneguk cerita cinta tanpa terkotakkan usia, gender, ataupun profesi. (* Dimuat di Teh Hangat edisi VII / Oktober-November; Sumber: http://ameliafitriani04.wordpress.com)

22.6.11

Mumpung Lucu


Mumpung lucu, ketawa lagi aja yuk!

28.7.09

Komedi ala Politisi


Pemilu sudah digelar. Ada rakyat yang menggunakan hak pilihnya, ada juga yang tidak alias golput. Ada calon (baik anggota legislatif maupun presiden-wakil presiden) yang merasa puas, ada juga yang ”kecewa”.

Berita di media cetak dan elektronik tak henti-henti menyiarkan berbagai hal berkaitan dengan pemilu. Kita seakan disuguhi informasi yang selalu diperbarui setiap detik sehingga seakan-akan kepala ini hampir penuh oleh berbagai informasi seputar pemilu. Meskipun demikian, informasi itu terus saja bertambah dan berkembang. Nah, daripada pusing, tak ada salahnya kan kita tertawa sejenak. Agar pas dengan situasi, silakan simak ”Komedi ala Politisi”.

Segera buru di toko buku. He… he… he….

31.3.09

Kumpulan Cerpen Ke-3

Siang tadi aku terima telepon dari penerbit. Si penelepon memastikan apakah alamatku sudah benar. Pasal, penerbit bermaksud mengirimkan bukti terbit buku terbaruku, sebuah buku kumpulan cerpen. Buku yang aku beri judul Sekumpulan Surat kepada Cinta ini adalah buku kumpulan cerpen ketigaku. Dua kumpulan cerpen sebelumnya adalah Kereta dengan Satu Gerbong dan Interupsi: Saat Rakyat Menggugat. Berikut petikan kata penutup buku ini.

SEPERTI membaca sebuah surat yang sangat personal, saya menikmati cerpen-cerpen Ugie (panggilan akrab Eko Sugiarto). Tokohnya sebagian besar: aku dan kamu. Seolah ’aku’ sedang menulis surat kepada ’kamu’. Dalam surat yang sederhana itu, terbongkar sejumlah kenangan. Dan kenangan di dalamnya, ternyata, kadang-kadang tidak sesederhana yang disampaikan. Begitu kompleks bagi sebuah (atau sepasang) hati yang terlibat di dalamnya.

Ketika umumnya surat-surat personal disimpan sangat hati-hati dalam sebuah almari, Ugie membocorkannya kepada kita. Sepanjang yang ’penulis surat’ lakukan, agaknya tidak terbebani oleh tujuan-tujuan besar, misalnya agar pembaca mendapatkan persoalan-persoalan baru yang kemudian menjelma teror. Cerpen itu melenggang dengan semangat percakapan dua orang, seraya membicarakan orang lain atau peristiwa lain, namun berada dalam wilayah pribadi yang kebetulan kita intip isinya. Kita diam-diam seperti sedang menemukan rahasia kehidupan orang lain.
(Kurnia Effendi)

Oke. Tunggu saja kehadiran buku ini di toko buku di kota Anda. Selamat menikmati Sekumpulan Surat kepada Cinta. O, ya. Jika ingin pesan buku ini via pesan singkat (SMS) dengan harga spesial, silakan klik situs ini.

@@@@@


Judul Buku: Sekumpulan Surat Kepada Cinta
Penulis: Eko Sugiarto
Tebal: 154 halaman
Penerbit: MASmedia Buana Pustaka, Sidoarjo
Cetakan 1, 2008


Manusia barangkali makhluk Tuhan yang paling sempurna. Punya akal yang membuatnya kreatif mencari ragam cara untuk berekspresi. Salah satunya menggunakan media yang dinamakan sastra. Lewat sastra, manusia mengekspresikan pengetahuan, imajinasi, dan perasaannya. Nah, perasaan yang menjadi fitrah manusia itu salah satunya adalah soal cinta. Dalam kumpulan cerpennya inilah Ugie (panggilan sehari-hari penulis produktif Eko Sugiarto) mencoba mengungkapkannya.

Ugie, sependek yang saya tahu, dulu pernah menerbitkan kumpulan cerpen yang semuanya bercerita tentang kereta api. Kali ini, penulis yang tinggal dan bekerja di Semarang ini buka-bukaan soal cinta. Pintar sekali penulis ini memikat pembaca, gaya penulisan cerpen yang dilakukan mencoba merangsek masuk, mencoba terlibat dalam benak pembaca. Dan, saya sebagai pembaca rupanya tergoda dan tak sadar terhanyut dalam cerita yang ditampilkannya.

Ceritanya tak begitu membuat kening berkerut. Berkisah tentang kenangan berada pada sebuah balkon, surat seorang anak yang membuat kangen, mendefisikan ulang arti kata selingkuh, seseorang yang sengaja tak mengirimi bunga pada sebuah senja, waswas soal perceraiaan setelah bedug lohor, atau kisah sebuah keluarga dengan rumah kreditnya. Semuanya mengaduk perasaan. Semuanya mempertanyakan dengan pernak-pernik cinta. Dan, diam-diam pembaca bisa manggut-manggut dengan pelajaran cinta yang diceritakan Ugie lewat cerpen-cerpennya ini.

Saya sendiri secara pribadi menaruh apresiasi lewat karya ini. Kumpulan cerpen ini satu per satu ditulis Ugie sejak tahun 2006. Jika penerbitan kumpulan ini tahun 2008, maka butuh waktu 2 tahun untuk sebuah buku kumpulan cerpen. Pelajaran yang bisa diambil, kesabaran pengarang itu perlu. Bahwa yang terpenting adalah menulis. Menerbitkannya menjadi buku itu hanya soal waktu.

Saya kira setelah menerbitkan kumpulan cerpen ini Ugie tak mandeg berkarya. Entahlah, kalau dulu bicara soal kereta api, lalu soal cinta, siapa tahu pada kumpulan cerpen selanjutnya, dan bisa jadi sebuah novel yang utuh Ugie akan membuat karya yang lebih hebat lagi. Siapa tahu best seller, siapa tahu mendapat penghargaan sastra yang terhormat itu. Siapa tahu-siapa tahu. Kita tunggu saja. Selamat berkarya kembali Bung. (yon’s achmad)

Sumber: penamuda.multiply.com

11.11.07

Bedah Buku Interupsi

Hari ini adalah hari pertama ada di Jogja. Rencana, enam hari ada di ini kota. Ya, sekali-kali kerja di tempat asal, eh... maksudnya tempat asal kuliah. He... he... he....

Sambil menunggu kerjaan, iseng aku googling. Tak sengaja nemu berita soal peluncuran salah satu bukuku sekian bulan silam. Sebenarnya ini media ada di Semarang. Cuman, lantaran pemuatan berita sudah berselang sekian hari dari acara, harap maklum kalo berita ini terlewatkan. Untunglah hari ini kutemukan berita tersebut. So, bisa dijadikan kliping nih.

Mau baca berita yang kumaksud? Silakan. Berita ada di bawah ini.

WAJAR saja bila pakar ilmu sastra, Dr Teguh Supriyanto MHum, pada awal-awal acara telah menegaskan bila dia enggan membedah buku kumpulan cerpen ”Interupsi Rakyat Gugat” Karya Eko Sugiarto dari pendekatan strukturalisme. Bahkan secara tegas, dalam acara yang digelar di Gazebo Kampus FBS Unnes, beberapa waktu lalu, Dr Teguh mengatakan terlalu sayang apabila buku tersebut hanya dibedah dengan pendekatan strukturalisme. Sekadar tambahan pemahaman, pendekatan strukturalisme merupakan pendekatan yang menguraikan karya sastra dari unsur pembangun sebuah karya.

Karena mengkaji unsur pembangun karya, pendekatan ini hanya menganalisa unsur-unsur pembangun karya sastra saja (alur, tokoh-penokohan, latar, dsb).

Menurut Dr Teguh, kumpulan cerpen yang sebagian besar isinya pernah dimuat di berbagai media massa tersebut, akan lebih menarik lagi bila dianalisa melalui muatan-muatan ideologis yang menyertainya. Terlebih lagi banyak kisah-kisah dalam cerpen yang menceritakan sebuah fenomena sosial politik yang semula dari peristiwa nyata yang kemudian difiksikan.

”Mengangkat kisah nyata dari dunia politik Indonesia, dalam pandangan sastra bisa berarti, usaha untuk membangun dunia politik tandingan untuk melawan politik dunia nyata yang secara kasat mata sulit tertandingi. Hegemoni tandingan dalam karya sastra ini, dapat dikatakan pula sebagai bentuk rekayasa pengarang untuk memasukkan ideologi politiknya ke dalam karya sastra,” urai Dr Teguh.

Dalam acara yang berlangsung menarik ini, hadir pula Trias Yusuf dari Fakultas Sastra Undip, penulis cerkak asal Gunungpati Ariesta Widya dan pengamat sastra Gunawan Budi Susanto. Di samping diskusi bedah buku, digelar pula aksi pembacaan cerpen yang dibawakan oleh Putri Arum Wijayanti dengan iringan biola Geni ”Pincang” Sugiyanto.

Nyata
Sementara itu, pengarang buku kumpulan tersebut, Eko Sugiarto, mengakui bila cerpen-cerpen yang dia masukkan dalam kupulan cerpen, merupakan kisah dari dunia nyata. Profesinya sebagai salah satu penyelaras bahasa pada salah satu media cetak nasional, memang membuatnya selalu berdekatan dengan fakta-fakta peristiwa yang dia baca dari sebuah berita.

Berbagai macam kisah yang menarik dari dalam berita inilah yang diakui oleh Eko Sugiarto sebagai titik pemicu dirinya menulis sebuah fakta cerita dari sudut fiksi. Untuk menegaskan bila cerpen-cerpennya berangkat dari dunia nyata, Eko bahkan mengatakan bila dia selalu berusaha untuk menyampaikan fakta secara jujur tanpa sebuah rekayasa.

”Apa yang saya tuliskan dalam cerpen sebagian besar adalah fakta-fakta nyata dalam kehidupan. Meskipun karya fiksi memperbolehkan adanya unsur rekaan, saya selalu berusaha untuk tidak memasukkan unsur-unsur alur rekaan dalam cerpen. Saya selalu berusaha untuk jujur dalam membuat sebuah cerita,” tutur Eko. zar/mc

Sumber: Koran Sore Wawasan

23.8.07

Buku Humor

Hari ini aku dapat kiriman dari penerbit. Dua buku kumpulan humor. Satu humor kiai, satu lagi humor pendeta.

Ide menyusun kumpulan humor sebenarnya sudah muncul sejak masa kuliah. Ketika itu aku ikut mata kuliah Folklor Indonesia. Bagian yang paling kusuka dari mata kuliah ini adalah bahasan soal kepercayaan tradisional (termasuk soal hantu, mantra, dan perdukunan di masyarakat tradisional). Selain itu, aku juga menyukai materi humor lisan dari berbagai kalangan dan lapisan, baik humor antarsuku, humor antaragama, hingga humor politik. Ide untuk mengumpulkan berbagai humor pun muncul dalam benakku. Namun, ide ini tertunda karena berbagai hal.

Kira-kira setahun lalu, aku kembali membuka-buka catatan kuliah. Salah satu kebiasaan yang kulakukan untuk mencari inspirasi. Aku hanya senyum-senyum sendiri ketika membaca catatan mata kuliah Folklor Indonesia. Akhirnya kubulatkan tekad untuk menyelesaikan buku kumpulan humor. Semangatku kian membara saat suatu malam aku menghabiskan waktu hampir semalam suntuk di Kota Solo bersama seorang kawan yang asli Solo, seorang kawan dari Surabaya, dan seorang lagi dari Semarang. Pasal, dalam kelakar dan obrolan kami yang hampir semalaman itu beberapa kali terlontar humor, di antaranya adalah humor agama. Setelah berpikir berulang-ulang, akhirnya kuambil tema besar humor agama untuk dijadikan sebuah buku.

Beberapa bulan berjalan aku mengumpulkan bahan. Humor-humor tentang agama kutulis ulang dengan gaya bahasaku sendiri. Akhirnya jadilah sebuah naskah yang kuberi judul Bhineka Tunggal Canda: Kumpulan Humor Lintas Agama. Lantas naskah itu kukirim ke penerbit.

Sambil menunggu nasib naskah tersebut, aku menulis naskah yang lain. Eh, belum genap dua bulan, aku dapat kabar bahwa naskah humor itu akan diterbitkan. Namun, ada satu syarat. Aku mesti memecah itu naskah jadi dua. Dan revisi pun kulakukan.

Ternyata naskah yang kurevisi masuk kategori tipis alias kurang tebal. Aku sempat bimbang. Apakah aku harus memasukkan koleksi humor yang masih kumiliki? Setelah kupikir-pikir, aku tak jadi memasukkan koleksi humor yang masih kupunya karena kuanggap terlalu sensitif. So, aku putuskan naskah humor revisi tetap kupertahankan ketebalannya. Untuk menambah koleksi humor agar buku tidak terlalu tipis, ternyata pihak penerbit mau mengusahakan tambahan beberapa humor. Trim’s Mas dan Mbak dari pihak penerbit yang telah mengusahakan dengan susah-payah sehingga dua naskah kumpulan humor bisa terbit dalam bentuk sekarang ini. Salam….

22.7.07

Peluncuran Interupsi

Cerpen Bercerita, Sastra Memberita
Oleh Achiar M Permana

LILIN barangkali tak lebih dari barang remeh-temeh yang acap terlupa. Benda itu boleh jadi mampir di benak kita hanya untuk dua peristiwa: ulang tahun dan listrik padam. Ya kan? Namun, benarkah tak ada yang istimewa dari lilin yang telah dekat dengan manusia sejak ratusan atau ribuan tahun silam? Jika pertanyaan itu Anda sodorkan pada Eko Sugiarto, barangkali dia bersigegas membacakan salah satu cerpennya. Judulnya ”Masih Adakah Lilin di Tempatmu”, satu dari 12 cerpen dalam antologi Interupsi, saat Rakyat Menggugat.

Antologi kedua Eko, setelah Kereta dengan Satu Gerbong (2006), itu diluncurkan di gazebo Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, Sekaran, Gunungpati, kemarin. Pada acara yang disahibulbaiti Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) itu, kumpulan cerpen Eko dibedah Dr Teguh Supriyanto MHum dan Gunawan Budi Susanto. Hadir Trias Yusuf dari Fakultas Sastra Undip dan Ariesta Widya, penulis crita cekak asli Gunungpati.

Dalam cerpen ”Masih Adakah Lilin di Tempatmu”, Eko yang juga penyelaras bahasa Kompas edisi Jateng-DIY itu menarasikan urgensi lilin yang begitu penting ketika listrik padam. Cerpen itu, kata dia, terinspirasi oleh listrik yang mendadak padam ketika terjadi gempa bumi di Padang, beberapa tahun silam.

Coba simak petilan cerpen itu yang dibacakan secara deklamatif oleh Putri Arum Wijayanti. ”Terlalu bodoh mungkin jika aku bertanya apakah malam ini ada lilin yang menyala, apalagi di kantor. Jelas tak ada...”

Suara bertimbre mezzosopran Puput, begitu mahasiswi cantik itu akrab dipanggil, ditingkahi liukan biola Geni P Sugiyanto. Para peserta diskusi terpaku, atau justru terhanyut, menikmati cara pembacaan yang puitis. Menyimak benda seremeh-temeh lilin, yang sangat sehari-hari, menjelma cerita yang mengalir untuk dinikmati.

Dari lilin, Eko menggulirkan kisah ke soal-soal lain, seperti hutan yang gundul oleh pembalakan atau jaringan listrik yang diboyakkan gempa. ”Berapa sih harga sebatang lilin? Mungkin itu yang sempat terlintas di kepalamu, kawan. Bukan masalah berapa harganya, tapi nyalanyalah yang dibutuhkan. Karena nyala itulah, seandainya ada benda lain yang bisa menggantikan nyala lilin itu, ia mungkin rela menukarnya dengan apa pun yang masih ada padanya...”

Melawan ”Arus”
Teguh Supriyanto, doktor ilmu susastra lulusan UGM, menilai cerpen Eko Sugiarto cenderung melawan ”arus”. Itulah kecenderungan cerpenis untuk menulis karya prosa fiksi berbasis khayalan, dengan ungkapan penuh metafora. Cerpen-cerpen Eko dalam Interupsi disebutnya berbasis fakta, seperti laporan jurnalistik, dengan pengungkapan relatif bersahaja. ”Eko bertindak sebagai narator, juru cerita, saat menuangkan gagasan. Itu pilihan politik yang cerdas, mengingat dia memiliki penguasaan data memadai,” komentar Teguh.

Dia menolak membedah cerpen-cerpen Eko dengan pisau analisis strukturalisme absolut. Sebab, kata dia, estetika strukturalisme membangun elitisme dan eksklusivisme, sedangkan cerpen Eko berbau populer, cair, dan menyebar. ”Estetika bahasa dalam strukturalisme sangat dipuja, sementara bahasa Interupsi cenderung beragam jurnalistik, encer, dan enak dibaca oleh kalangan mana pun.” (53)

Sumber: Harian Suara Merdeka Edisi Jumat 20 Juli 2007


Cerpen, Cara Berbagi Pengalaman
Penulis Perlu Jujur Baca Realitas


”Seorang yang mungkin malam ini kedinginan dan meringkuk seorang diri dalam gelap karena listrik di kotanya padam akibat gempa. Seseorang yang masih gamang tentang bagaimana nasib masa depannya. Seorang yang tak tahu ke mana harus berharap dan ke mana pula harus mencurahkan cinta.... Masihkah kita percaya bahwa malam ini dia membutuhkan lilin?”

Demikian cuplikan cerpen berjudul "Masih Adakah Lilin di Tempatmu?" dalam antologi cerpen "Interupsi, Saat Rakyat Menggugat" karya Eko Sugiarto. Antologi cerpen kedua Eko ini diluncurkan di Fakultas Bahasa dan Sastra Jurusan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (19/7).

Peluncuran antalogi itu dikemas dalam diskusi ringan yang menghadirkan dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unnes Teguh Supriyanto dan seniman Forum Seni Gebyog Gunawan Budi Susanto.

”Kisah-kisah dalam cerpen Eko terkesan apa adanya yang mengangkat kejadian sehari-hari. Sesuatu yang remeh-temeh dan seringkali terlewatkan atau dilupakan orang, diangkatnya, seperti lilin dan orang duduk di depan jendela,” kata Gunawan.

Menurut Gunawan, kejadian yang dialami setiap orang atau sesuatu yang bisa ditemui setiap hari itu tidak begitu istimewa. Namun, ketidakistimewaan itu justru menghadirkan kejujuran penulis yang mampu membaca realitas. Beragam realitas itu melanggengkan ingatan dan melawan lupa.

Dalam kesempatan itu, Teguh mengemukakan, cerpen itu merupakan laporan setiap peristiwa hidup. Dalam cerpen itu Eko sering menggunakan gaya bertutur orang pertama, yaitu ”aku” dan ingin berdialog serta mengganggap pembacanya sebagai teman, dengan menyebutkan kata "kita" dan "kawan".

Menurut Eko, cerpen-cerpen tersebut lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Cerpen berjudul ”Masih Adakah Lilin di Tempatmu?”, misalnya. Gagasan menulis cerpen tersebut muncul ketika lampu di kantornya mati dan bersamaan dengan itu ia menerima pesan singkat (SMS) dari saudaranya.

Eko juga mengatakan, cerpen merupakan sebuah cara berbagi pengalaman keseharian dengan orang lain. ”Dengan membaca cerpen, pembaca bisa terlibat menjadi salah satu tokoh dan seolah-olah bisa mendengarkan cerita dari seorang kawan atau sahabat,” ujar dia. (HENDRIYO WIDI)


Sumber: Harian Kompas Jateng Edisi Jumat 20 Juli 2007

8.7.07

Kumcer Interupsi

Buku baru. Ya, satu lagi buku baru. Sebuah buku kumpulan cerpen dengan judul ”Interupsi: Saat Rakyat Menggugat” akan segera hadir di hadapan pembaca. Berikut beberapa komentar tentang buku ini.

Cerpen-cerpen Eko Sugiarto adalah potret realitas sosial. Eko Sugiarto menelaah dengan tajam bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda-beda. Di satu pihak para tokoh dalam cerpen menghayati dirinya sebagai pusat aksi atau kegiatan, di lain pihak mereka berpikir dan bertindak dengan berpangkal pada suatu pola budaya tertentu dan susunan struktural tertentu yang memberi makna, arah, dan bentuk pada aksinya. (Gendhotwukir, Presiden Milis Komunitas Merapi)

Kemampuan penulisnya memadukan bahasa sederhana menjadi kaya makna adalah kekuatan antologi ini. Cerita-ceritanya selalu lembut, namun membuat kita selalu ingin terus mengulang menafsirnya. Setelah Triyanto Triwikromo, Eko Sugiarto menyembul sebagai pengarang dengan genre yang unik. (Slamat P Sinambela, cerpenis dan penerjemah lepas)

Membaca cerpen-cerpen Eko Sugiarto, saya sering paksa untuk menjadi awam kembali. Capaian perjalanan hidup yang sebelumnya saya gadang-gadang sebagai sesuatuyang luar biasa, inspiratif, nyatanya biasa saja. Sebaliknya, sesuatu yang saya anggap tidak penting, di mata batin Eko Sugiarto justru menjelma menjadi sesuatu yangsangat penting. Eko Sugiarto sepertinya penganut mazab foucoultian. Ia lebih senang membicarakan narasi-narasi kecil. Berlebihankah saya? Ada baiknya Anda membaca cerpen pertama di buku yang tengah Anda pegang ini: ”Masih Adakah Lilin di Tempatmu?” Lilin, keberanian untuk memberikan kemanfaatan buat orang lain, meski dengan begitu menggerus habis hak yang semestinya dapat dicecap. Itulah risalah yang dibawa Nabi Isa. (Agus M Irkham, penikmat cerpen, instruktur literasi)

Berkirim parsel di antara warga terdorong oleh rasa persaudaraan yang erat. Berkirim parsel kepada pejabat membuka jalur kolusi. Eko Sugiarto membidik dampak penjual parsel yang sudah berubah menjadi lahan ”profesi” baru. (Sigit Susanto, Moderator Milis Apresiasi Sastra, komentar untuk cerpen ”Keluh Seorang Pembuat Parsel”.)

Puitis, barangkali seperti itu yang tergambar dari kumpulan cerpen Eko Sugiarto ini. Kemampuannya dalam bermetafora membuat bingkai cerita-cerita yang sederhana itu menjadi retoris dan meninggalkan gema di sudut-sudut ruang pikir pembaca. Sepertinya Eko Sugiarto masih mencoba setia kepada dulce et utile. Sementara itu, akhiran yang mengejutkan juga menjadi kekuatan cerpen-cerpennya. Suspense, rangkaian ilustrasi demi ilustrasi sering kali dipungkasinya dengan sentuhan akhir yang mengejutkan, tak jarang ironis. Seperti peluru yang melesat menembus pembaca tepat di pangkal hidung pada Lubang di Jendela. (Didik Eko Wahyudi, penikmat sastra)

21.5.07

Kereta sebagai Inspirasi

Oleh Yon’s Revolta

Judul Buku : Kereta dengan Satu Gerbong
Penulis : Eko Sugiarto
Tebal : 80 halaman
Penerbit : Lanarka, Solo
Cetakan I : 2006

Di negeri ini, ketika seseorang mendengar kata kereta (api) bisa jadi akan mengernyitkan dahi. Terbayang bagaimana banyak kejadian mengenaskan terjadi, penumpang kerap menjadi korban ketika berkesempatan naik kereta. Entah itu karena tabrakan, meluncur bebas, atau rel ajlok. Belum lagi misalnya cerita penat dan sesaknya ketika naik kereta ekonomi. Sungguh, bukan hal yang enak dibayangkan.

Tapi, di mata seorang pengarang, semuanya bisa berubah menjadi kenangan yang mengesankan. Setidaknya, inilah yang berhasil dipotret oleh Eko Sugiarto lewat kumpulan cerpen dalam buku yang tidak begitu tebal ini.Di dalam buku ini, kita disuguhi delapan cerita yang masing-masing selalu berbicara atau terkait dengan sebuah kereta. Tentunya, dialam cerpen yang notabene karya sastra, kata kereta ini tidak melulu berarti lugas, denotatif, apa adanya. Kereta bisa berarti sebuah kiasan tersendiri dimata pengarang yang disampaikan Eko dalam pengantar singkatnya.

Namun begitu, ketika karya sastra sudah terlahir, telah selesai ditulis. Kita, sebagai pembaca bebas melakukan tafsir terhadap makna yang terdedahkan dalam cerpen itu. Hal ini tak melulu mengekor doktrin “pengarang telah mati”, ketika karya lahir. Dalam melakukan apresiasi, tak jadi soal kita perlu “menghadirkan” pengarangnya untuk sekedar mengetahui sudut pandang yang mungkin berbeda. Setidaknya berbagi pengalaman batin dan sesekali proses kreatif. Ini bukan sesuatu yang haram dalam kehidupan bersastra.

Jujur, saya sendiri agak kesulitan menangkap makna beberapa cerpen yang ada. Terutama yang berjudul “Sekali lagi, ceritakan tentang Mawar” dan “Kereta dengan Satu Gerbong”. Namun ada sebuah esensi yang bisa saya dapatkan ketika membaca karya Eko ini, yaitu kekuatan imajinasi. Istilah kereta, bagi Eko bukan saja sumber inspirasi untuk menelurkan karya berupa cerpen, tapi juga berhasil mengeksplorasinya dengan kekuatan imajinasi.. Dalam karya sastra, kekuatan imajinasi ini perlu selain soal pesan moral dan estetika bahasa

Soal kenikmatan, tentu lain lagi. Setiap orang mempunyai seleranya masing-masing. Satu hal yang pasti, kisah-kisah kereta ini tak lepas dari pengalaman batin sang penulis ketika kecil. Seusai azan maghrib, di kampungnya sering terdengar nada pujian “Tumpakane kereto Jowo rodo papat rupo menungso” (Kendaraannya kereta Jawa beroda empat berwujud manusia). Kenangan silam ini yang telah menginspirasi Eko untuk membuat cerpen-cerpen seputar kereta.

Nah, akhirnya, dari pembacaan cerpen-cerpen Eko ini, kita bisa belajar tentang sumber inspirasi. Tak perlu jauh-jauh, ketika bicara karya, menulislah sesuatu yang pernah kita rasakan. Tak ada kebuntuan inspirasi ketika kita akan berkarya karena inspirasi ini ada dalam keseharian kita. Apa yang pernah kita rasakan, renungkan dan jadikan inspirasi dalam setiap karya kita. Jangan terlampau memaksakan diri untuk mengambil inspirasi “diluar sana”. Toh, kejadian keseharian justru bisa memberikan sentuhan personal tersendiri atas karya kita. Dan, berimajinasilah, menyelam keluar batas kenyataan, jika kita menginginkannya. Sekali lagi karena imajinasi dalam karya sastra itu perlu dan menjadi kekuatan tersendiri atas sebuah karya sastra.

*Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Purwokerto.

Sumber: http://www.penulislepas.com/v2/?p=452

21.12.06

Menulis Cerpen?

Akhir-akhir ini aku kok jarang nulis cerpen ya? Bahkan, bisa dibilang jarang buanget. Sesekali memang masih nulis cerpen, cuman kok ya gak selesai-selesai. Baru satu ato dua halaman, eh… dah macet. Itu masih mending. Terkadang malah satu halaman pun belum selesai, eh... sudah macet. Biasanya sih karena ada hal lain yang lebih menarik untuk ditulis sehingga cerpen yang lagi ditulis akhirnya ditinggalkan begitu saja. Wah, kayaknya penyakit lama kambuh lagi neh? Cuman, kok ya gak kunjung dapat obat. Kira-kira ada yang bisa kasih obat gak ya? Siapa tahu kan ada pengunjung yang bersedia jadi sukarelawan yang dengan senang hati membantu memberi obat biar ini penyakit lekas kabur dari diriku.

Nah, sebagai ganti nulis cerpen, aku justru nulis karya nonfiksi. Ya, malah tulisan nonfiksi tuh kayaknya yang makin hari makin bikin arsip di komputer kos bertambah. Meskipun gak setiap hari, tapi menulis karya nonfiksi jauh lebih sering kulakukan dibanding nulis karya fiksi (cerpen). Gak tahu kenapa akhir-akhir ini seolah-olah tulisan-tulisan nonfiksi selalu menggodaku. Lha soal bacaan, lagi-lagi nonfiksi yang mendominasi. Kayaknya emang ada sesuatu yang tengah terjadi nih? Tapi... apaan ya? Ada yang tahu gak?

Sore tadi, iseng-iseng aku buka-buka folder sampul karya. Eh… ada dua sampul buku kumpulan cerpen. Kebetulan, aku ikut terlibat dalam proses penerbitan dua buku itu. Oleh karena itu, aku coba tampilkan di blog ini. Yah, hitung-hitung buat menyemangati diri sendiri agar kembali bangkit menulis karya fiksi, khususnya cerpen. Syukur-syukur juga bisa menyemangati orang lain. Kan jadi dapat pahala. He... he... he.... Semoga….

10.9.06

Kereta dengan Satu Gerbong

Judul: Kereta dengan Satu Gerbong
Penulis: Eko Sugiarto
Penerbit: Lanarka Publisher
Tebal: xvi + 79 hlm

Kereta, stasiun, peron, rel, dan semua hal-hal yang berkaitan dengan kereta akan kita temui dalam tiap cerpen yang terangkum dalam sebuah buku kumpulan cerpen ”Kereta dengan Satu Gerbong” karya cerpenis muda Eko Sugiarto (Ugie). Seperti diungkapkan oleh Eko Sugiarto dalam kata pengantarnya, cerpen-cerpen yang terangkum dalam buku ini lahir dari kenangan sekitar 16 tahun yang lampau ketika keluarganya pindah rumah. Dari rumah barunya ini usai azan maghrib ia sering mendengar lantunan pujian dengan bahasa jawa lewat pengeras suara dari surau yang ada di dekat rumahnya. Di antara pujian yang sering didengarnya itu penulis sering menangkap kata ”kereto” (kereta) yang melukiskan keranda, ”kendaraan” untuk mengantar orang yang meninggal menuju pemakaman. Lantunan pujian yang berasal dari masjid ini membuat dirinya "merinding" setiap kali mendengarnya dan akhirnya menggerakkan otot-otot kreativitasnya untuk melahirkan sejumlah cerpen yang berkaitan dengan kereta.

Kata kereta dalam kumpulan cerpen ini terkadang bermakna lugas dan apa adanya, namun ada juga yang bermakna kias. Beberapa cerpen seakan mengajak pembacanya untuk menyelami makna hidup yang penuh misteri. Pembaca akan dituntun menuju batas misteri antara dunia nyata dan imajinasi, antara kehidupan dan kematian, antara harapan dan kenyataan, dan misteri-misteri alam batas lainnya (hlm. vi). Batas-batas misteri ini tampak jelas pada cerpen yang dijadikan judul buku ini ’Kereta dengan Satu Gerbong’. Cerpen ini menuturkan tokoh Aku yang sedang berada dalam sebuah stasiun kereta yang lengang di mana tak tampak satu pun kesibukan yang biasanya terdapat dalam sebuah stasiun kereta api. Tak ada pedagang asongan, penjual koran, pengemis, dan lain-lain. Yang tampak hanya beberapa orang yang tengah duduk menunggu datangnya kereta dengan wajah yang pucat.

Tak lama kemudian datanglah sebuah lokomotif dari arah timur yang hanya menarik satu gerbong. Beberapa orang yang terlihat menunggu tadi pun segera memasuki gerbong tersebut, namun tak ada ekspresi kebahagiaan pada wajah mereka seperti halnya calon penumpang yang gembira karena keretanya tiba. Semua masuk dengan wajah yang tampak pasrah. Ketika semua telah masuk, kereta dengan satu gerbong itu tetap menunggu. Heran karena kereta itu tidak segera berangkat, si Aku segera masuk ke dalam gerbong. Ia pun tercengang ketika mendapati bahwa gerbong tersebut ternyata memiliki panjang yang tak terbatas dan di dalamnya telah duduk ratusan ribu hingga jutaan orang. Berbagai keanehan lain ditemui oleh si Aku dalam gerbong ini. Melalui cerpen ini pembaca diajak untuk menyelami sebuah gerbong misteri yang nantinya akan melakukan perjalanan menuju batas antara misteri kehidupan dan kematian.

Beberapa cerpen lainnya masih mengusung ke-misteri-an kereta yang dikatikan dengan misteri kehidupan, cerpen ’Kereta Keempat’ mengisahkan seorang wanita yang ditemui oleh si Aku yang sama-sama sedang menunggu sebuah kereta yang akan menjemputnya. Cerpen ini berbicara mengenai rahasia kehidupan siapa yang akan terlebih dahulu harus ’pergi’ dengan kereta yang lebih awal di mana tak seorang pun tahu sebab itu adalah rahasia milik Yang Mahakuasa.

Tak hanya menyuguhkan cerita misteri kehidupan, dalam buku ini pembaca juga disuguhkan cerpen yang mengungkap realita sosial seputar sengketa tanah dengan pemerintah. Hal ini terungkap pada cerpen ’Kuharap Kau [Tak] Singgah ke Rumahku’. Dikisahkan tokoh dalam cerpen ini memiliki sebuah rumah yang penuh dengan aksesori kereta, mulai dari foto, mainan anak, patung, semua berwujud kereta. Rumah ini terbuka bagi siapa saja dan tak jarang banyak orang yang singgah bermalam di rumah ini. Menurut mereka, rumah tersebut memberikan rasa tenteram bagi siapa saja yang singgah. Kabar kenyamanan rumah ini tersebar dari mulut kemulut hingga akhirnya terekspose ke media massa. Rumah yang nyaman ini akhirnya tercium oleh pemerintah setempat dan dibuatlah rencana agar rumah tersebut diperluas untuk dijadikan sebuah museum. Namun si pemilik rumah menolaknya karena ia pikir jika dijadikan museum tentu saja orang yang hendak datang harus membeli tiket, bagaimana halnya dengan orang miskin? Dan bagaimana kalau rumah itu diperluas dan para tetangganya terkena gusur yang berarti harus menerima ganti rugi yang biasanya tak layak? Penolakan ini menghasilkan sengketa dan rumah tersebut harus dieksekusi. Hal ini menimbulkan protes dari pemilik rumah dan sejumlah tokoh masyarakat untuk mempertahankan rumah tersebut dengan melakukan perlawanan.

Soal-soal romantisme cinta yang berkaitan dengan kereta pun tak luput dari kretivitas Eko Sugiarto, seperti pada cerpen ’Memoar Kereta Malam’ dan ’Catatan untuk Boneka Kecilku’ terungkap bagaimana rasa cinta dan konflik batin muncul dari diri si tokoh utama dalam masing-masing cerita tersebut.

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini menarik untuk dibaca. Delapan buah cepen yang ada dalam buku ini setia dalam mengangkat nuansa kereta, stasiun, peron, dan lain-lain. Uniknya, tema-tema itu dirangkai dalam balutan keragaman tema. Ada tema misteri kehidupan, percintaan, realita sosial, bahkan ada satu cerpen yang membuat pembacanya tersenyum dikala mengakhiri cepen ’Dari Tugu ke Pakistan’. Semua itu hanya berdasarkan satu kata ’kereta’ yang menggerakkan imajinasi penulisnya untuk membuat cerita-cerita pendek yang menarik.

Sumber:
  1. Majalah Aksara Edisi 7
  2. www.bukuygkubaca.blogspot.com

Nubuat Labirin Luka

Nubuat Labirin Luka
Oleh Aliyah Purwanti

Kerinduan terhadap keadilan yang sangat jarang terpenuhi di negara ini diutarakan dalam bentuk puisi oleh para pengagum, sahabat, kaum tertindas yang pernah dibela, keluarga dan orang-orang yang terinspirasi oleh perbuatannya. Para penulis yang menyumbangkan karyanya: Asep Sambodja, Aliyah Purwanti, Anik Sulistyawati, Azizah Hefni Basilius, Andreas Gas, Bima Dirgantara Putra, Ben Abel, David C Nainggolan, Denny Ardiansyah, Dino F Umahuk, Djodi B Sambodo, Donny Anggoro, Eka Budianta, Emil Wahyudianto, Eko Sugiarto (Ugie), Frigidanto Agung, Had! Eko Suwono, Hartono Beny Hidayat, Hasan Aspahani , Henny Purnama Sari, Indrian Koto, Leo Kelana, Luka Muhamad, M Amin dr, Mega Vristian, Mila Duchlun, Muhammad Muhar, Naldi Nazir, Nanang Suryadi, Nining Indarti, Rini Fardhiah, S Yoga, Saeno M Abdi, Saut Situmorang, Seto Nur Cahyono, Setiyo Bardono, Sihar Ramses Simatupang, Sobron Aidit, St Fatimah, Stevi Yean Marie, Sutan Iwan Soekri Munaf, Titik Kartitiani, Ucup Al-Bandungi, Widzar Al-Ghifary, Viddy AD Daery, Widia Cahyani, dan Yonathan Rahardjo.

Buku yang disampulnya bertuliskan ”Nubuat Labirin Luka: Antologi Puisi untuk Munir” yang ditulis kecil-kecil membentuk siluet wajah munir ini diterbitkan oleh Aceh Work Group dan Sayap Baru. Buku setebal 144 halaman ini telah diluncurkan di Tenda Putih, Victoria Park, Hongkong (27/1/2005) dan baru diluncurkan di Jakarta pada bulan berikutnya. Buku ini mempunyai garis merah, yaitu perjuangan tiada henti Munir dalam membela kaum yang tertindas.
(Sumber:http://www.fordiasastra.com)