17.10.12
Menulis Buku Humor?
4.10.12
Lama Tidak Bersastra
30.12.11
Catatan Akhir Tahun
Tahun 2011 banyak hal terjadi. Satu yang paling penting buatku adalah berhenti bekerja di kantor dan memutuskan untuk mendalami (lagi) dunia tulis-menulis. Namun, kali ini tak sekadar menulis. Aku mulai belajar menerbitkan buku.
Awalnya memang terasa berat karena meskipun belasan judul buku sudah kutulis, toh semua diterbitkan oleh penerbit. Tak satu pun di antara belasan judul tersebut yang aku terbitkan sendiri sehingga pengalaman menerbitkan buku sendiri tahun 2011 ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan buatku.
Karena terlalu asyik, tak terasa ternyata aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari seluk-beluk penerbitan buku. Alhasil, kebiasaanku menulis naskah untuk media cetak semakin jarang. Meskipun demikian, masih sempat dua kali tulisanku muncul di media cetak lokal di Yogyakarta, yaitu sebuah cerpen pada bulan Juni 2011 dan sebuah tulisan pendek di koran yang sama yang baru dimuat kemarin.
Semoga tahun 2012 lebih banyak tulisan yang bisa kuhasilkan, baik berupa buku maupun tulisan di media cetak. Akhirnya, aku cuman bisa bilang, "Selamat Tahun Baru 2012. Tetap Menulis. Salam."
27.10.11
24.11.10
Terbit Ulang
Pertama, ada dua naskah yang ternyata telah habis kontrak penerbitannya. Salah satu dari kedua naskah itu bahkan sudah habis masa kontrak dengan penerbit sejak setahun lalu. Naskah yang terbit tahun 2007 tersebut habis masa kontrak penerbitan pada tahun 2009. Sementara satu naskah lagi yang terbit tahun 2008 sudah habis masa kontrak beberapa bulan yang lalu. Nah, kedua naskah yang dikontrak penerbit selama dua tahun inilah yang bakal aku terbitkan kembali.
Kedua, satu naskah yang sudah habis terjual sejak Oktober 2009. Ketika itu aku hubungi penerbit yang bersangkutan dan katanya mau dicetak ulang. Namun, satu tahun lebih naskah itu tak juga dicetak ulang. Sesuai perjanjian penerbitan yang kami tandatangani bahwa satu tahun setelah naskah habis terjual dan tidak juga dicetak ulang, maka hak penerbitan kembali kepada penulis. Naskah ini juga bakal aku terbitkan lagi.
13.10.10
Akhirnya Kelar Juga
Syukur kepada Tuhan akhirnya naskah yang mangkrak berkali-kali kelar juga. Naskah yang memang kutargetkan selesai tahun ini sebagaimana aku tulis di postingan sebelumnya, yaitu postingan tanggal 31 Maret 2010, selesai aku tulis awal Oktober ini. Lega karena utang telah terbayar.
25.8.10
Kembali Online
Salam.
31.3.10
Tekad Tahun Ini
Niat untuk menulis otobiografi sebenarnya sudah lama ada di benakku, bahkan sejak beberapa tahun silam. Namun, selalu saja ada alasan untuk menunda atau berhenti ketika baru dapat beberapa halaman.
Nah, pada awal 2010, kebetulan ibuku singgah di Kota Semarang dalam perjalanan beliau ke Yogyakarta untuk menunggui adik iparku yang akan melahirkan. Ketika itulah aku kembali menggali kenangan masa kecil dari cerita beliau.
Setelah mendengar cerita ibu dan mencatat bagian-bagian yang aku anggap penting lantas membaca ulang catatan tersebut, semangat untuk menulis otobiografi kembali bangkit. Lantas aku bertekad menyelesaikan naskah otobiografi yang sudah bertahun-tahun mangkrak. Bahkan, aku berjanji kepada diri sendiri: naskah itu harus selesai tahun 2010. Ya, naskah harus selesai tahun 2010 walaupun harus ”mengorbankan” naskah lain.
31.1.10
Otobiografi
Riwayat hidup pribadi yang ditulis sendiri atau otobiografi (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat tertulis autobiografi) sudah tak asing lagi buat kita. Namun, tak banyak dari kita yang mencoba (ataupun sungguh-sungguh) menulis sebuah otobiografi.
Jika kita menulis sebuah buku (bahkan sebuah artikel) biasanya akan terlihat jelas gaya penulisan kita. Gaya penulisan kita yang unik inilah yang membedakan tulisan kita dengan orang lain. Meskipun tema yang dibahas sama, gaya penulisan masing-masing orang tentu akan berbeda.
Ketika kita menulis otobiografi, tak hanya gaya penulisan kita yang unik. Lebih dari itu, cerita yang kita tulis juga akan sangat unik dan tidak mungkin sama dengan orang lain. Ketika menceritakan masa kecil yang masih lekat dalam ingatan kita, misal, tentu ada nuansa lain yang lebih ”menggigit” karena peristiwa yang kita tulis tersebut adalah peristiwa yang kita alami sendiri. Selain itu, ketika menulis pengalaman tersebut kita melibatkan segenap perasaan.
Dengan demikian, jika kita ingin tulisan yang kita hasilkan unik, salah satu latihan yang bisa kita lakukan adalah dengan menulis otobiografi. Jadi, kenapa tidak memulai menulis otobiografi sejak sekarang?
22.12.09
Kirim Naskah Lewat Pos
Sempat seorang kawan bertanya mengapa aku lebih memilih kirim naskah lewat jasa pos (lebih-lebih ke penerbit yang belum kukenal), tidak pakai surel? Bukankah kalo mau memanfaatkan teknologi surel akan lebih praktis?
Aku hanya tersenyum. Lantas berkata bahwa aku lebih mantap kirim naskah lewat jasa pos karena bisa kita pantau hari ini posisi kiriman kita sampai di mana. Ya, cukup dengan memasukkan nomor kiriman di kolom “Lacak Kiriman” yang ada di situs web Pos Indonesia, aku tahu posisi naskah yang kukirim sampai di mana. Bahkan, ketika naskah sampai ke penerbit, lewat fasilitas itu aku bisa tahu bahwa naskahku diterima oleh X pada hari dan tanggal tertentu.
Dengan informasi tersebut, suatu ketika jika beberapa bulan setelah waktu pengiriman ternyata tak ada kabar dari penerbit dan aku perlu konfirmasi nasib naskah, aku tinggal sebutkan informasi yang kuperoleh dari situs web Pos Indonesia tersebut. Aku bahkan bisa katakan bahwa naskah kukirim tanggal sekian bulan sekian, sampai di kota tujuan tanggal sekian bulan sekian, bahkan sampai di penerbit tanggal sekian bulan sekian diterima oleh orang bernama X dengan jabatan Y. Cukup lengkap, bukan?
Dengan demikian, tidak ada alasan lagi bagi penerbit (yang mungkin berniat “nakal”) mengatakan merasa tidak atau belum menerima naskah yang aku kirim. Tak apalah keluar sedikit biaya, pikirku. Toh demi sebuah kemantapan dan keamanan. Nah, lho.
30.11.09
Sakit
Selama sakit, aku memang menghidupkan komputer di rumah. Namun, sekadar mendampingi anak-anakku mewarnai. Ya, meskipun baru bisa pegang tetikus dan menggerak-gerakkan serta mengeklik untuk mewarnai, mereka terlihat sangat senang.
Aku lebih sering memerhatikan mereka saat mewarnai gambar di komputer. Aku perhatikan mereka dengan saksama. Dalam hati ada sebuah kekaguman atas keberanian mereka dalam mengambil keputusan. Tanpa beban, mereka berani memutuskan bahwa langit berwarna hijau, gunung berwarna merah, rumput berwarna hitam, dan warna-warna yang tak sewajarnya. Ya, aku hanya biarkan saja mereka. Aku biarkan imajinasi mereka tentang warna benda mengalir menurut kemauan mereka. Toh tak ada salahnya mereka mewarnai seekor sapi dengan warna jingga, bukan?
Setelah mereka selesai mewarnai, aku bisa melihat bahwa ternyata mereka punya imajinasi yang terkadang tak terlintas di benakku. Warna-warna ”tak wajar” itu seakan mengingatkanku bahwa seperti itulah sebaiknya pikiran kreatif kita bekerja. Spontan dan berbeda dari yang dipikirkan oleh kebanyakan orang.
Syukurlah hari ini kondisiku sudah agak mendingan. Sejak kemarin aku juga sudah mulai buka-buka arsip tulisan di komputer. Ada beberapa naskah mangkrak. Bahkan, ada satu naskah yang kukerjakan sebelum sakit lalu sudah hampir mencapai 50 persen. Ya, gara-gara sakit, naskah itu aku tinggalkan untuk sementara.
Ketika badan berangsur membaik dan aku berniat mulai menggarap naskah itu, sebuah e-mail dari penerbit masuk. Si pengirim menanyakan kapan aku bisa selesaikan salah satu naskah yang pernah kutawarkan. Ya sudah. Aku dahulukan isi e-mail itu. Aku bilang akhir pekan ini (kalau tidak tanggal 4 ya tanggal 5 Desember 2009) aku akan kirim naskahku via email. Dengan demikian, naskah yang sudah hampir 50 persen itu kembali kutinggalkan dan akan aku garap kembali mulai pekan depan. Semoga lancar.
30.10.09
Utang, Istirahat, dan Kesehatan
Ya, tahun ini aku masih berutang satu naskah buku kepada diri sendiri. Utang yang mesti terbayar segera dan dua bulan waktu yang tersisa tahun ini kurasa cukup.
Wah, begitu percaya diri ya? Bisa jadi. Namun, rasa percaya diri itu saja tidak cukup. Meskipun beberapa ide naskah sudah ada di kepala (bahkan ada yang tinggal mengeksekusi karena rencana atau draf sudah komplet), toh tanpa benar-benar menuliskannya, naskah itu tak akan terwujud. Satu hal lagi, meskipun aku sudah siap menuliskannya tetapi jika kesehatan tak mendukung, tentu naskah itu tak bakal terwujud. Itulah salah satu alasan yang biasa aku gunakan untuk berhenti sejenak mengistirahatkan tubuh ini supaya tubuh bisa tetap sehat. (Tentunya selain berdoa sesekali berolah raga ringan.) Ya, asal tak kelamaan istirahatnya. Bukannya apa-apa, takut ntar keterusan dan akhirnya malah berhenti menulis. Bisa gawat tuh?
29.6.09
Sekolah, Capek Deh!
Nasi gudangan masih ada. Tiga bungkus buat berdua rasanya cukup. Sayang, sarapan buat si kembar gak ada karena semua sayur dan lauk pedas. Kami lantas meluncur melintasi Jalan Panda, Perumahan Pondok Indah, dan muncul di Jalan Arteri Soekarno-Hatta.
Jalanan mulai ramai. Kami terus melaju di Jalan Arteri Soekarno-Hatta dan berhenti di perempatan Tlogosari ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Saat lampu hijau menyala, kami belok kanan masuk Jalan Tlogosari Raya lantas menyusuri jalan-jalan kecil dan akhirnya sampai di Pasar Tlogosari. Di pasar istriku beli bahan sayuran dan lauk untuk masak hari ini sekaligus lauk matang untuk sarapan si kembar. Begitu semua sudah terbeli, kami meluncur pulang.
Sampai di rumah, kami sarapan. Usai sarapan, aku mengambil naskah yang baru kuselesaikan beberapa hari lalu. Seperti biasa, aku pergi ke tempat fotokopi untuk menggandakan naskah itu sekaligus menjilidnya sebelum kukirim ke penerbit. Kali aku sengaja mencari tempat fotokopi yang agak jauh dari rumah, sekitar 300 meter dari rumah dengan pertimbangan ada tempat duduk ketika mesti menunggu.
Meskipun belum pukul delapan, tempat fotokopi itu rupanya penuh sesak. Sepeda motor terparkir tak karuan, malang melintang di pinggir jalan. Ah, rupanya mereka adalah para siswa dan orang tua yang akan mendaftar sekolah. Ada yang memfotokopi surat keterangan lulus, buku rapor, kartu keluarga, surat nikah orang tua, dan lain-lain. Mereka adalah orang tua murid dari tingkat pendidikan berbeda, TK, SD, dan SMP.
Lumayan lama juga aku mengantre. Padahal, ketika itu yang memfotokopi cuman si pemilik. Para karyawan belum datang. Si pemilik terlihat kewalahan. Setiap ada yang selesai memfotokopi, ada lagi yang datang. Kadang satu, kadang dua, kadang sekaligus tiga orang. Di sela-sela itu masih ada satu-dua orang (kadang orang tua, kadang anak) yang menyela membeli map dengan warna yang macam-macam.
Melihat begitu banyak orang sibuk memfotokopi pikiran nakal menyelinap di benakku. Lha, mereka susah-susah sekolah, ujung-ujungnya cuman dapat beberapa lembar kertas. Lantas kertas-kertas itu mereka fotokopi. Dengan fotokopi itu mereka sibuk mencari sekolah baru, sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi. Di sana, mereka bakal kembali disibukkan dengan rutinitas seperti ketika bersekolah di jenjang sebelumnya. Bahkan, di jenjang yang lebih tinggi ini kegiatan mereka kian padat. Ujung-ujungnya apa coba? Ya, sama juga. Kelak mereka bakal dapat lembaran-lembaran kertas semacam itu lagi dengan stempel dan tanda tangan pejabat pendidikan (baca ijazah). Lantas mereka memfotokopi lagi lembaran-lembaran kertas itu untuk mendaftar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Begitulah. Sekolah seolah hanya mengejar fatamorgana. Mengandalkan lembaran-lembaran kertas untuk mencapai sesuatu yang (menurut mereka) lebih baik. Begitu seterusnya hingga akhirnya dengan lembaran-lembaran kertas itu mereka berharap memperoleh pekerjaan yang menjanjikan. Sekali lagi, dengan hanya mengandalkan lembaran-lembaran itu mereka berharap dapat kerja. Ya, kalau kelak akhirnya mereka dapat kerja seperti yang mereka dan orang tua harapkan? Kalau tidak? Stres kali, ya?
Aku teringat masa lalu. Dulu aku juga pernah mengalami hal serupa. Mulai SD, SMP, hingga SMA aku mengalami hal serupa. Aku selalu berusaha keras untuk mendapatkan lembaran-lembaran itu sebagai tiket. Lulus SD dapat tiket untuk masuk SMP. Lulus SMP dapat tiket muntuk masuk SMA. Nah, ketika lulus SMA inilah lembaran-lembaran itu tak lagi bisa diandalkan untuk masuk perguruan tinggi idaman dengan tarif spesial (baca PTN) karena lembaran-lembaran itu hanya sebagai syarat. Jika ingin benar-benar masuk PTN, ya tiketnya mesti ikut seleksi (gak tahu ya kali aja sekarang ada cara-cara tertentu yang gak harus susah-susah ikut seleksi?) Di sinilah kemampuan kita benar-benar diuji.
Pengalaman lulus SMA itulah yang membuatku merenung. Ya, ijazah saja rupanya tidak cukup. Kita perlu punya keahlian untuk bisa bersaing di dunia kerja yang kian sesak ini. Jika hanya mengandalkan ijazah, siap-siap saja menelan pil pahit bernama kekecewaan. Nah, lo?
24.2.09
Kita Putus!
Ada saja masalah yang terjadi antara penulis dan penerbit. Kali ini sebuah penerbit betul-betul membuatku kecewa. Pasal apa? Penerbit yang satu ini sama sekali tidak menghargai penulis. Begitu setidaknya menurutku. Begini ceritanya.
Tahun lalu (2008) aku dapat pesanan untuk menulis beberapa naskah dari seorang kawan yang bekerja di sebuah penerbit buku pelajaran. Namun, aku tidak langsung menyanggupi tawaran itu. Aku coba tulis satu naskah untuk menjajaki kerja sama dengan pihak penerbit.
Setelah satu naskah kelar, lagi-lagi aku diminta menulis beberapa naskah. Namun, lagi-lagi aku mengelak dengan berbagai alasan. Prinsipku, sebelum naskah pertamaku yang kukirim ke penerbit tersebut terbit sehingga aku bisa sedikit banyak tahu karakter penerbit itu (apakah penerbit yang ”baik” atau sebaliknya), aku tak mau kirim naskah lagi.
Beberapa bulan sudah berlalu. Sampailah waktunya aku menerima naskah siap cetak yang mesti kuperiksa. Setelah naskah itu kuperiksa, akhirnya kukembalikan naskah itu ke penerbit. Tentunya dengan beberapa catatan, salah satunya adalah tentang tidak dicantumkannya namaku sebagai nama penulis di sampul depan. Aku pikir ketika itu memang terlewati.
Beberapa bulan setelah naskah itu kembali ke penerbit, aku dihubungi oleh pihak penerbit. Aku diminta datang ke kantor penerbit tersebut untuk mengambil uang muka royalti tahap pertama. Karena memang kebetulan waktu itu ada acara di kota tempat penerbit itu berada, aku sekalian mampir untuk mengambil uang muka royalti tahap pertama. Ketika kutanyakan apakah naskahku sudah naik cetak, salah seorang karyawan di penerbit itu bilang bahwa sedang menunggu giliran alias antre. (Ketika itu kawanku yang memintaku menulis naskah sudah tidak lagi bekerja di penerbit itu. Konon memang ada masalah dengan pihak penerbit.)
Tahun 2008 berlalu dan tahun 2009 telah tiba. Pada awal Januari 2009 aku mendapat telepon dari penerbit. Aku diminta datang ke kantor untuk mengambil uang muka royalti tahap kedua sekaligus tanda tangan kontrak. Lagi-lagi aku penuhi panggilan itu.
Rupanya itulah waktunya aku tahu bahwa penerbit itu sama sekali tidak profesional. Aku diminta menandatangani surat perjanjian penerbitan yang hanya terdiri dari sehelai kertas dengan beberapa pasal yang merugikan aku selaku penulis. Anehnya lagi, ketika akan tanda tangan, pihak yang akan mewakili penerbit bertanya (mungkin pura-pura) ke salah seorang karyawan perempuan (sepertinya bagian keuangan) apakah masih punya meterai. Lantas apa jawaban si karyawan perempuan itu? ”Meterai habis, Pak. Tadi tinggal satu dan sudah dipakai. Tadi Si A sedang keluar beli meterai,” begitu lebih kurang inti jawaban si karyawan perempuan.
Akhirnya aku diminta menunggu. Kata orang yang mewakili penerbit, aku mesti menunggu sampai orang yang membeli meterai kembali. Aku menunggu di ruang tempat si bagian keuangan duduk tanpa ditemani si empunya meja (si karyawan perempuan bagian keuangan itu tuh?) maupun seorang bapak yang (katanya) mewakili penerbit. Setelah menunggu seorang diri cukup lama, akhirnya mereka kembali dengan sehelai ”surat perjanjian penerbitan”. Aku diminta tanda tangan di sehelai surat itu.
Sesaat kemudian, kedua orang ini kembali meninggalkan ruangan. Lagi-lagi aku ditinggal seorang diri hingga akhirnya si karyawan perempuan itu kembali dengan dua lembar surat perjanjian. Satu surat asli yang aku tanda tangani bersama seorang bapak yang mewakili penerbit, sedang satu lagi adalah fotokopi surat yang pertama.
Surat fotokopian itu diserahkan kepadaku. Aku bilang bagaimana kalau aku minta yang asli (yang dibubuhi meterai). Si karyawan perempuan itu bilang tidak bisa. Emosi yang sejak tadi kutahan hampir-hampir meluap tak terbendung. Akhirnya aku tarik napas dalam-dalam dan bilang sekiranya aku minta tambah jatah bukuku yang terbit itu barang lima eksemplar sebagai bukti terbit untuk promosi diperbolehkan atau tidak. Dia jawab kalau aku menginginkan buku itu, aku harus beli. Grrrr.... Aku bertambah geram.
Sekadar catatan, ketika pertama kali masuk ruang itu aku diminta menandatangani kuitansi uang royalti tahap kedua sekaligus menerima amplop yang berisi uang. Aku juga mendapatkan satu eksemplar buku sebagai bukti terbit. Berbeda dengan peberbit-penerbit lain yang biasanya memberi 10 eksemplar atau yang paling buruk pernah kuterima adalah lima eksemplar sebagai bukti terbit. Ya, inilah kali pertama aku hanya menerima satu eksemplar sebagai bukti terbit. Bahkan, di buku itu tidak tercantum namaku sebagai penulis di sampul depan. Namaku ada di sampul bagian dalam. (Silakan lihat foto. Nama penerbit sengaja aku sembunyikan.)Kupikir-pikir daripada lama-lama berada di ruang itu dan tensiku naik, lebih baik aku langsung pamit dengan uang muka royalti tahap kedua, satu eksemplar buku sebagai bukti terbit, dan sehelai ”surat perjanjian” berupa fotokopi. Sebelum keluar dari halaman parkir penerbit itu, aku mampir ke pos jaga satpam. Aku titipkan ”surat perjanjian” fotokopian itu kepada salah seorang petugas satpam untuk diserahkan kepada Mbak Bla-bla-bla (aku lupa namanya) di bagian keuangan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas satpam, aku ngeloyor pergi. Dalam hati aku berkata, ”Kita putus!”
Begitulah. Aku menyatakan ”putus” hubungan alias tidak bakal lagi menerima pesanan naskah apalagi menerbitkan buku lewat penerbit yang satu ini jika masih tidak menghargai penulis, terutama dalam hal hak-hak yang harus diterima oleh penulis. Jika mereka mau berubah, tentu lain persoalan. Namun, tentunya perubahan itu harus ada dalam perjanjian hitam di atas putih. He... he... he....
Oke. Mungkin ini dulu. Buat kawan-kawan yang akan bekerja sama dengan penerbit, mudah-mudahan pengalaman yang aku bagi ini bisa menjadi bahan renungan. Jika sekiranya kawan-kawan masih ragu dengan sebuah penerbit, silakan minta masukan dari orang yang Anda percaya. Jangan lupa juga untuk minta surat perjanjian penerbitan asli yang dibubuhi meterai untuk mengikat kesepakatan antara kedua belah pihak, Anda dan penerbit.
Aduh…. (kayak tokoh Ozan di salah satu acara komedi aja ya?) hampir lupa. Sekilat info, eh... sekilas maksudnya. Akhirnya satu naskah telah selesai pada pertengahan Februari lalu. Dengan demikian, lima naskah lagi mesti kuselesikan dalam waktu 10 bulan ke depan. Mudah-mudahan target enam naskah kelar pada tahun ini bisa terwujud. Salam....
12.2.09
Komunikasi Tradisional

Unik. Begitu kata seorang kawan saat mengomentari foto hasil jepretanku siang tadi. Ya, foto hasil jepretan di sebuah pos ronda di daerah Tlogosari Wetan, Kota Semarang, menggambarkan sebuah warisan komunikasi masa lalu. Kentongan (ada yang menulis kentungan), begitu orang di desaku dulu menyebut alat komunikasi ini.
Untuk memberikan penjelasan tentang kentongan, berikut aku kutip sumber tulisan dari situs Wikipedia (dengan sedikit pengeditan berkaitan dengan bahasa). Silakan simak.
Kentongan atau kentung-kentung adalah alat komunikasi jarak jauh tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu berongga. Kentongan dipukul untuk memberi tanda bahaya, sebagai penanda waktu, atau sebagai seruan untuk berkumpul bagi penduduk yang mendengarkannya. Pesan yang dikirim diidentifikasi melalui perbedaan ritme dan selang suara tabuhannya. Setiap daerah biasanya memiliki kode pukulan kentongan yang berbeda. Pemaknaan terhadap bunyi kentongan bergantung kebiasaan di daerah masing-masing.
Pada zaman sekarang, peran kentongan sebagai penyiar informasi telah banyak digantikan oleh peralatan komunikasi elektronik. Kentongan lebih banyak digunakan sebagai hiasan ruangan dan hanya ditabuh pada upacara-upacara adat.
Ya, begitulah. Perkembangan dunia komunikasi memang sudah begitu pesat. Meskipun demikian, gambaran akan adanya alat komunikasi tradisional berupa kentongan masih bisa kita temukan, setidaknya di beberapa pos ronda di daerah Tlogosari Wetan, Kota Semarang (mungkin juga di daerah lain) berupa papan yang bertuliskan arti tanda-tanda bunyi kentongan. Perkara tanda-tanda itu saat ini masih digunakan atau tidak, itu sudah lain persoalan. Salam.
3.2.09
Malu Aku...
Tanggal 24 Januari 2009 (hari Sabtu) aku mengantar kedua anakku liburan ke Yogyakarta. Tujuan utama kami adalah Kebun Binatang Gembira Loka.
Berkeliling Gembira Loka tampaknya membuat anak-anakku benar-benar gembira. Mereka berlari kian kemari sembari sesekali menunjuk binatang yang ada di kandang sambil memanggil-manggil nama binatang itu. Jika mereka bertanya nama binatang yang ada di sebuah kandang, aku cukup membaca papan nama yang ditulis dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Latin) dan terpampang di salah satu sisi setiap kandang. Contoh: di depan kandang harimau tertulis kata ”Harimau Sumatra”, ”Sumatran Tiger”, dan ”Panthera tigris” yang disusun dalam tiga baris.
Singkat cerita sampailah kami di kandang zebra. Aku langsung senyum-senyum ketika membaca tulisan yang terpampang di papan yang ada di depan kandang zebra. Ada tiga baris tulisan, yaitu ”Sebra”, ”Zebra”, dan ”Equus zebra”. (Lihat foto) Mengapa aku senyum-senyum sendiri? Adakah yang lucu? Ya. Aku merasa geli membaca kata-kata yang terpampang di papan itu, khususnya kata di baris pertama, kata ”Sebra”.
Hingga usiaku hampir 30 tahun, baru kali ini aku tahu bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata ”Sebra”. Benar-benar menggelikan ada tulisan ”Sebra” di Kebun Binatang Gembira Loka yang notabene sebagai salah satu tempat edukasi bagi anak-anak. Betapa menyedihkan ketika sepulang dari Kebun Binatang Gembira Loka anak-anak kita diminta membuat tulisan tentang zebra mereka menuliskan kata ”Sebra” berulang-ulang. Ah, malu aku.
Ketiga baris tulisan yang terpampang di depan kandang zebra itu juga secara tidak langsung menunjukkan bahwa si pembuat tulisan itu lebih menghargai bahasa bangsa lain daripada bahasa bangsa sendiri, bahasa Indonesia. Lho, kok?
Lihat saja. Kata di baris kedua (bahasa Inggris) penulisannya betul, ”Zebra”. Kata di baris ketiga (bahasa Latin) penulisannya juga betul, ”Equus zebra”. Nah, bagaimana halnya dengan kata di baris pertama (bahasa Indonesia)? Keliru. Seharusnya kata di baris pertama adalah ”Zebra”, bukan ”Sebra”.
Kalau aku boleh berandai-andai, kemungkinan ketika menulis kata baris kedua dan ketiga di papan itu si penulis bertanya ke sana kemari (bahkan mungkin juga melihat kamus) sehingga tidak terjadi kekeliruan. Mungkin si penulis merasa malu seandainya kedua kata dari bahasa asing tersebut penulisannya keliru.
Lantas bagaimana halnya dengan bahasa sendiri (bahasa Indonesia)? Rasanya kok tak perlu tanya ke sana kemari kalau ingin menuliskan kata tertentu. Lagi pula, bukankah sudah dianggap lazim atau wajar jika kesalahan terjadi ketika kita berbahasa Indonesia? Sebaliknya, akan menjadi ”aib” ketika kesalahan terjadi tatkala kita berbahasa asing. Yah, rupanya (sebagian besar dari) kita lebih berbangga dengan bahasa asing daripada bahasa sendiri, bahasa Indonesia.
Semoga saja hal ini hanya terjadi dalam bahasa dan bukan merupakan sebuah gejala awal bahwa (sebagian besar dari) kita lebih mencintai bangsa lain daripada bangsa sendiri. Nah, bagaimana menurut Anda?
4.1.09
Target 2009
Bicara soal tahun baru, biasanya kita membuat rencana untuk satu tahun. Biasanya kita menentukan target yang mesti kita capai dalam tahun yang bersangkutan. Nah, ngomong-ngomong soal target tahun 2009 ini, aku tidak terlalu muluk-muluk. Tahun ini aku punya 6 target. Salah satu dari 6 target itu adalah target dalam menulis. Untuk target ini, aku punya target menyelesaikan 6 naskah buku. Aku tegaskan, 6 naskah buku selesai ditulis (bukan diterbitkan lho?) Lantas mengapa 6 (target) dan 6 (naskah buku) ya? Aku sendiri gak tahu.
Meskipun aku punya target menyelesaikan 6 naskah buku, sampai detik ini aku belum dapat satu pun tema buku yang akan kutulis. Ya, kecuali memang beberapa tema yang tersisa dari tahun lalu. Pokoke, mudah-mudahan target 6 naskah buku ini bisa tercapai. Jika belum dapat tema baru untuk ditulis, untuk sementara menyelesaikan beberapa naskah yang masih mangkrak.
Sekadar catatan. Tanggal 3 kemarin (Sabtu) aku dapat kabar dari sebuah penerbit. Salah satu naskahku bakal diterbitkan. Lumayan untuk menyemangatiku untuk terus menulis. Nah, bagaimana dengan Anda?
30.12.08
Tenggat Akhir Tahun

Hingga akhir November 2008 aktivitas menulis naskah kuganti dengan menata buku. Membersihkan rak buku dan menatanya kembali sesuai dengan ukuran (bukan jenis) buku. Aku juga sempat menyampuli beberapa buku.
Ketika asyik mengubek-ubek rak buku itulah sebuah buku menarik perhatianku. Aku berniat membaca buku itu hingga tuntas dengan tenggat akhir Desember 2008. Sayang, baru dapat sekitar 20 persen dari jumlah halaman buku itu, aku tergoda untuk mempelajari ulang salah satu mata kuliah yang pernah kuperoleh. Mengapa bisa begitu?
Buku yang aku baca adalah sebuah buku tentang penggalian sebuah situs arkeologi. Dalam buku itu diceritakan betapa sebuah ilmu tak bisa berdiri sendiri. Ketika sebuah situs arkeologi selesai digali, untuk menguak informasi di situs itu ternyata diperlukan bantuan ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah filologi, linguistik, sejarah, bahkan biologi hingga kedokteran.
Entah mengapa ketika membaca begitu banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam penggalian sebuah situs arkeologi, tiba-tiba aku tertarik untuk membaca beberapa buku filologi yang kumiliki semasa kuliah dulu. Aku pun kembali mengorek rak buku, mencari buku-buku yang ada kaitannya dengan filologi, termasuk beberapa catatan kuliah yang masih kumiliki. Di antara sekian banyak hal yang dibahas dalam filologi (Melayu), satu hal yang menarik perhatianku adalah ketika membaca tentang kaidah penulisan huruf Arab-Melayu (Jawi).
Beberapa kaidah penulisan huruf Arab-Melayu memang masih kuingat. Namun, beberapa di antaranya aku sudah lupa. Tak heran, untuk membaca tulisan Arab-Melayu aku masih mengalami beberapa kendala di sana-sini. Nah, untuk penulisan malah lebih parah. Oleh karena itu, kuputuskan untuk kembali mempelajari kaidah-kaidah penulisan huruf Arab-Melayu. Kurasa waktu yang kupunya hingga akhir Desember 2008 masih cukup. Toh ketika itu baru akhir November.
Sayang. Lagi-lagi keinginanku tak terwujud. Pasal, baru dapat beberapa hari, aku tertarik kepada beberapa buku dengan tema sejenis. Nah, dari situlah akhirnya aku tergoda untuk menulis naskah. Aku sangat yakin bisa menyelesaikan naskah itu secepatnya.
Untuk mengumpulkan bahan, kurasa satu minggu sudah cukup. Dengan demikian, ketika itu aku menargetkan pengumpulan bahan selesai pada 1 Desember 2008. Penulisan kutargetkan selesai 2 minggu sehingga maksimal tanggal 15 Desember 2008 naskah harus sudah selesai. Untuk editing dan cetak naskah cukup 4 hari (19 Desember 2008) sehingga keesokan harinya (20 Desember 2008) naskah sudah bisa dijilid dan langsung dikirim ke penerbit.
Aku rasa tenggat itu tak begitu berat. Pasal, aku tahu betul apa saja yang akan kutulis di setiap bab. Singkat kata, draf naskah sudah jadi di luar kepala. Selain itu, naskah yang kutulis tidaklah begitu tebal dan bahan yang kukumpulkan sebagian sudah cukup mendukung. Tinggal beberapa bagian yang masih rumpang dan untuk melengkapi bagian yang rumpang itu, aku berburu bahan di Perpusda Jateng serta toko buku untuk membeli beberapa buku.
Syukurlah, meski agak sulit, bahan-bahan itu bisa juga kuperoleh. Tak begitu sama persis memang, tetapi materi yang kuperoleh dari bahan-bahan bacaan itu cukup bisa menggerakkan sel-sel di otakku untuk menulis sebuah naskah. Ya, bahan-bahan itu bisa merangsang sel-sel di otakku untuk mengeluarkan sedikit pengetahuan yang selama ini terpendam. Akhirnya, tanggal 13 Desember 2008 naskah yang kutulis kukirim ke penerbit, seminggu lebih awal dari target yang kurencanakan dan aku bisa melanjutkan membaca buku yang tertunda. Meskipun demikian, hingga hari ini buku yang kubaca sejak pertengahan November 2008 belum juga selesai. Kira-kira masih menyisakan 20 persen dari total halaman.
Ya, mungkin itu saja postingan akhir tahun ini. Selamat Tahun Baru 2009 dan sukses selalu buat Anda. Salam.
22.10.08
Lagi-lagi soal Target
Dulu sempat aku targetkan naskah selesai dalam waktu 7 minggu untuk satu naskah (postingan Juli 2008). Dengan demikian, untuk meyelesaikan 2 naskah setidaknya perlu waktu 14 minggu. Padahal, tahun ini tinggal tersisa sekitar 9 minggu. Belum lagi banyak hal penting yang tiba-tiba muncul dan mesti aku selesaikan sebelum tahun depan menjelang. Meskipun begitu, tetap saja aku menulis di sela-sela berbagai rutinitas dan sejenak lupakan target.
O, ya. Beberapa kawan sempat bertanya soal buku terbaruku. Kurasa itu sebuah pertanyaan yang wajar mengingat tahun ini baru satu bukuku yang terbit dan bisa ditemukan di toko-toko buku. Namun, seharusnya sudah ada 5 buku yang terbit tahun ini karena sudah ada 2 naskah yang kutandatangani perjanjian penerbitannya, sedangkan 2 naskah lainnya meskipun belum tanda tangan perjanjian penerbitan, penerbit sudah menyatakan OK alias siap menerbitkan naskah tersebut.
24.9.08
Pola Menulis
Salah satu pengalaman unik yang bisa kuceritakan adalah ketika pada suatu pagi kami melewati sebuah lahan kosong. Ketika itu salah seorang anakku bilang ingin pipis. Aku menepi dan menghentikan sepeda motor, lantas turun. Aku ajak anakku yang ingin buang air kecil mencari tempat agak menjauh dari jalan, sementara anakku yang satu hanya memerhatikan. Beberapa saat kemudian anakku bilang, ”Sudah”. Maksudnya sudah selesai (buang air kecil).
Keesokan paginya aku jalan-jalan lagi dengan kedua anakku dan melewati jalan yang sama. Begitu sampai di lahan kosong tempat kami berhenti sehari sebelumnya, lagi-lagi anakku bilang ingin pipis. Cuman, kali ini aku tidak berhenti. Aku terus memacu sepeda motor perlahan dan baru berhenti di tempat lain (yang juga lahan kosong) yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempat kami berhenti sehari sebelumnya. Di tempat kedua ini, anakku buang air kecil untuk beberapa saat. Setelah itu, kami pulang.
Keesokan harinya, aku mengajak istriku jalan-jalan dengan kedua anakku. Saat melewati lahan kosong tempat anakku buang air kecil sehari sebelumnya (tempat kedua), lagi-lagi anakku minta berhenti. Dia bilang ingin pipis. Aku berhenti, istri dan anakku yang ingin pipis turun. Beberapa saat kemudian, anakku pun buang air kecil.
Begitulah. Berkali-kali kami melewati lahan kosong tempat anakku bilang ingin pipis, kami selalu berhenti. Bahkan, terkadang anakku sebenarnya tidak ingin buang air kecil, tetapi tetap bilang ingin pipis sehingga mau tak mau kami harus berhenti setiap melewati lahan kosong tersebut. Ternyata anakku yang satu ini begitu hafal rute yang kami lewati setiap pagi dan dia selalu meminta berhenti di sebuah lahan kosong tempat dia pernah buang air kecil.
Entah berapa kali kejadian itu selalu berulang. Akhirnya, suatu pagi aku coba melewati rute yang sama tetapi kali ini arahnya kuubah/kubalik. Jika biasanya kami melewati lahan kosong itu dari arah barat, kali ini aku ubah dari arah timur. Ternyata anakku tidak bilang pipis lagi saat melewati tempat itu. Rupanya perubahan pola (biasanya dari arah barat lantas kuubah dari arah timur) kemungkinan sedikit banyak mengacaukan pola yang sudah ada di dalam ingatannya. Aku tidak tahu apakah ini pertanda baik atau justru sebaliknya.
Pengalaman di atas boleh juga sesekali kita coba dalam menulis. Jika biasanya jadwal menulis kita pagi hari, cobalah sesekali menulis pada siang, sore, atau malam hari. Ya, kita coba kacaukan pola menulis kita. Setelah itu, coba amati. Adakah sesuatu yang berubah? Entah tema tulisan yang tiba-tiba sangat berbeda atau jauh melenceng dari tema-tema yang biasa kita garap, entah suasana hati yang mendadak jadi berapi-api/bersemangat, entah kalimat-kalimat yang tiba-tiba jadi romantis, atau bahkan malah macet alias tak bisa menulis. Nah, apakah Anda punya pengalaman yang bisa dibagi di sini?
Oke. Apa pun hasil dari pola menulis yang diacak ini, setidaknya ada satu hal yang bisa kita ambil manfaatnya, yaitu kita sudah berusaha belajar menulis tanpa terikat waktu. Kita sudah berusaha untuk bisa menulis tidak hanya dalam waktu tertentu (misal pagi, siang, sore, atau malam hari), melainkan pada setiap waktu. Ya, saya sudah mencoba hal ini selama bulan Ramadhan dan rasanya cukup menyenangkan. Akhirnya, selamat Lebaran. Mohon maaf untuk segala khilaf.



