31.3.08

Catatan dari Solo (Lanjutan)

Setelah sekian lama tidak memajang tulisan di blog ini, tibalah saatnya aku membayar utang, yaitu Catatan dari Solo (Lanjutan). Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang kupajang beberapa hari yang lalu.

Usai seminar, aku meluncur ke kos salah seorang kawan. Kami terpaksa cari ”jalan tikus” karena kebetulan kawanku hanya membawa satu helm. Setelah menyusuri sekian banyak ”jalan tikus”, sampailah kami di sebuah indekos. Eh, kebetulan di sana ada Dwicipta, cerpenis Jogja yang sedang menerjemahkan sebuah novel.

Sore harinya, kami meninggalkan Dwicipta di indekos. Kami meluncur ke tempat yang akan digunakan sebagai arena kemah sastra 2008 di Lemah Putih. Di sana aku ketemu beberapa kawan dari Rumah Sastra yang sedang mendirikan tenda. Eh, saat ketemu Joko Sumantri (Rumah Sastra), aku bari ingat bahwa aku punya seorang adik kelas saat kuliah di Sastra Indonesia UGM yang saat ini jadi dosen di UNS. Kebetulan Mas Joko juga kenal dengan si dosen ini. Nah, aku tanya nomor ponsel sesama alumni ini kepada Mas Joko. Ternyata nomornya belum ganti. Aku lantas menghubungi kawan sealmamater ini.

Agak kaget juga dia saat kutelepon. Lantas dia memintaku datang ke rumahnya di Perumnas Palur. Dia juga menawarkan agar aku menginap di rumahnya. Pasal, siang itu dia baru saja kecelakaan. Tabrakan sesama sepeda motor. Tangan kanannya terkilir sehingga tidak bisa mengendarai sepeda motor sehingga tak bisa pergi kemana-mana. Aku berjanji datang ke rumahnya. Kalau tidak malam itu, kemungkinan besok pagi.

Akhirnya aku dan Ary (kawanku yang setia mengantarku keliling Solo) kembali ke kos. Di bawah guyuran hujan, kami membelah jalanan Kota Solo. Sesampai di kos, Ary langsung meluncur ke kantor, sementara aku ngobrol di kos dengan Dwicipta hingga Ary kembali ke kos. Singkat kata, kami menghabiskan semalaman dengan ngobrol bertiga tentang apa saja.

Keesokan paginya aku membangunkan Ary. Dwicipta sengaja tak kubangunkan. Soalnya, aku tahu dia baru berangkat tidur saat dini hari. Ary mengantarku ke rumah kawan di Perumnas Palur. Sebuah reuni bakal digelar.

Sampai di rumah yang kami tuju, ternyata si penghuni malah lagi di rumah sakit memeriksakan tangannya yang terkilir saat kecelakaan sehari sebelumnya. Setelah kawan yang satu ini datang, kami ngobrol lebih kurang setengah jam. Lantas Ary pamit untuk kembali ke kos menjemput Dwicipta untuk bersama-sama pergi ke Lemah Putih.

Sepeninggal Ary, kami mengobrol. Benar-benar seperti reuni karena obrolan kami seputar kampus, dosen, dan kawan-kawan semasa kuliah. Meskipun kami beda dua tahun saat masuk kuliah (aku masuk 1998, sedangkan kawanku masuk tahun 2000), kami saling tahu satu sama lain. Pasal, meskipun berbeda angkatan, kami sering kuliah bersama. Maklum, kami tidak mengalami kuliah dengan sistem paket. Ambil mata kuliah sesuka kami. Tentu dengan syarat dosen wali mengizinkan.

Siang itu kami banyak berbagi cerita. Kami pun saling bertukar info nomor ponsel para alumni yang kami ketahui. Obrolan pun terus berlanjut hingga saat kami makan siang di sebuah warung di dekat Taman Jurug, lantas meluncur ke arena sekaten.

Dari sekian banyak hal yang kami perbincangkan, satu hal yang menurutku sangat perlu untuk dicatat. Saat ngobrol tentang tulis-menulis dan penerbitan buku, kawan saya menyatakan keprihatinannya tentang beberapa hal yang ”kurang pantas” dilakukan seorang penulis. Salah satunya adalah tentang plagiasi.

Hal lain yang menurutku sangat menarik untuk dicatat adalah kawanku mengatakan prihatin dengan dunia kepenulisan para dosen, minimal dosen-dosen yang dia kenal. Kawanku bercerita bahwa banyak dosen yang ”titip nama” saat para mahasiswa melakukan penelitian. Kawanku juga bilang bahwa ”titip nama” saat para mahasiswa melakukan penelitian adalah hal biasa di kalangan dosen (yang dia kenal).

Namun, aku merasa bersyukur karena kawanku mengaku bahwa dia merasa risih jika harus ikut-ikutan ”titip nama”. Bahkan, kawan yang satu ini sering mendapat tawaran untuk dipinjam namanya sebagai penulis buku. Belum lama ini, misalnya. Dia dihubungi seorang penulis yang telah menyelesaikan sebuah naskah buku pelajaran yang siap cetak. Kawanku ditawari apakah dia bersedia jika namanya dicantumkan sebagai salah seorang penulis buku itu? Kawanku dengan tegas menyatakan, ”Tidak!”

Aku lantas memancingnya dengan bertanya, ”Mengapa kamu tidak mau? Kan secara materi hal itu sangat menguntungkan?” Dia menjawab, ”Mas, secara materi memang menguntungkan. Cuman, ini menyangkut tanggung jawab ilmiah. Lagian, guruku (dosen) tidak mengajarkan seperti itu.”

Mendengar jawaban itu, aku ikut tersenyum bangga. Ternyata, masih ada alumni yang selalu ingat pelajaran dari guru (dosen) kami. Sebuah pelajaran yang cukup berharga: kejujuran.

Mengapa aku bilang masih ada alumni yang selalu ingat pelajaran dari guru (dosen) kami? Pasal, beberapa waktu yang lalu, aku sempat ngobrol dengan salah seorang dosen Undip, Semarang, yang kebetulan dulu sama-sama satu almamater. Menurut dosen Undip ini, banyak di antara alumni yang sudah melupakan pelajaran dari guru-guru kami. Banyak alumni yang lebih berorientasi kepada materi sehingga rela mengorbankan banyak hal, termasuk ”idealisme” yang diajarkan guru-guru kami.

2 comments:

Fiz said...

Ada Nasi Kucingnya gak nih??? Hehehe kok jadi kayak masuk warung HIK...

Ugie said...

he.. he... he.... ada tuh bos. nasi kucing sambal tempe.