24.9.08

Pola Menulis

Suatu pagi, aku jalan-jalan bersama kedua anakku. Ya, sebuah kebiasaan yang sering kami lakukan pada pagi hari, tepatnya setelah kedua anakku mandi pagi dan sebelum mereka tidur. Banyak pengalaman kuperoleh dari kegiatan rutin pada pagi hari ini.

Salah satu pengalaman unik yang bisa kuceritakan adalah ketika pada suatu pagi kami melewati sebuah lahan kosong. Ketika itu salah seorang anakku bilang ingin pipis. Aku menepi dan menghentikan sepeda motor, lantas turun. Aku ajak anakku yang ingin buang air kecil mencari tempat agak menjauh dari jalan, sementara anakku yang satu hanya memerhatikan. Beberapa saat kemudian anakku bilang, ”Sudah”. Maksudnya sudah selesai (buang air kecil).

Keesokan paginya aku jalan-jalan lagi dengan kedua anakku dan melewati jalan yang sama. Begitu sampai di lahan kosong tempat kami berhenti sehari sebelumnya, lagi-lagi anakku bilang ingin pipis. Cuman, kali ini aku tidak berhenti. Aku terus memacu sepeda motor perlahan dan baru berhenti di tempat lain (yang juga lahan kosong) yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempat kami berhenti sehari sebelumnya. Di tempat kedua ini, anakku buang air kecil untuk beberapa saat. Setelah itu, kami pulang.

Keesokan harinya, aku mengajak istriku jalan-jalan dengan kedua anakku. Saat melewati lahan kosong tempat anakku buang air kecil sehari sebelumnya (tempat kedua), lagi-lagi anakku minta berhenti. Dia bilang ingin pipis. Aku berhenti, istri dan anakku yang ingin pipis turun. Beberapa saat kemudian, anakku pun buang air kecil.

Begitulah. Berkali-kali kami melewati lahan kosong tempat anakku bilang ingin pipis, kami selalu berhenti. Bahkan, terkadang anakku sebenarnya tidak ingin buang air kecil, tetapi tetap bilang ingin pipis sehingga mau tak mau kami harus berhenti setiap melewati lahan kosong tersebut. Ternyata anakku yang satu ini begitu hafal rute yang kami lewati setiap pagi dan dia selalu meminta berhenti di sebuah lahan kosong tempat dia pernah buang air kecil.

Entah berapa kali kejadian itu selalu berulang. Akhirnya, suatu pagi aku coba melewati rute yang sama tetapi kali ini arahnya kuubah/kubalik. Jika biasanya kami melewati lahan kosong itu dari arah barat, kali ini aku ubah dari arah timur. Ternyata anakku tidak bilang pipis lagi saat melewati tempat itu. Rupanya perubahan pola (biasanya dari arah barat lantas kuubah dari arah timur) kemungkinan sedikit banyak mengacaukan pola yang sudah ada di dalam ingatannya. Aku tidak tahu apakah ini pertanda baik atau justru sebaliknya.

Pengalaman di atas boleh juga sesekali kita coba dalam menulis. Jika biasanya jadwal menulis kita pagi hari, cobalah sesekali menulis pada siang, sore, atau malam hari. Ya, kita coba kacaukan pola menulis kita. Setelah itu, coba amati. Adakah sesuatu yang berubah? Entah tema tulisan yang tiba-tiba sangat berbeda atau jauh melenceng dari tema-tema yang biasa kita garap, entah suasana hati yang mendadak jadi berapi-api/bersemangat, entah kalimat-kalimat yang tiba-tiba jadi romantis, atau bahkan malah macet alias tak bisa menulis. Nah, apakah Anda punya pengalaman yang bisa dibagi di sini?

Oke. Apa pun hasil dari pola menulis yang diacak ini, setidaknya ada satu hal yang bisa kita ambil manfaatnya, yaitu kita sudah berusaha belajar menulis tanpa terikat waktu. Kita sudah berusaha untuk bisa menulis tidak hanya dalam waktu tertentu (misal pagi, siang, sore, atau malam hari), melainkan pada setiap waktu. Ya, saya sudah mencoba hal ini selama bulan Ramadhan dan rasanya cukup menyenangkan. Akhirnya, selamat Lebaran. Mohon maaf untuk segala khilaf.

5 comments:

Haris Firdaus said...

membiasakan menulis dalam kondisi apapun memang sesuatu yang dibutuhkan orang2 yang berhasrat utk terus menulis! sepakat denganmu, Mas Eko!

Ugie said...

halo haris. pa kabar? trim;s dah mampir. salam....

timur matahari said...

mas. saya sangat sepakat..
menulis dimana saja dan dimana saja menulis...

Ugie said...

trim's matahari. sukses ya. salam

femi said...

tjotjok. sesungguhnya nulis nggak harus di waktu tertentu aja yah. hanya kadang-kadang, mood juga mempengaruhi kan.